Wall Street Mengawali Tahun 2024 Dengan Tak Sumringah


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street mengawali perdagangan pada tahun 2024 dengan tak sumringah. Wall Street kompak dibuka melemah pada pembukaan perdagangan di tahun ini.

Pada perdagangan Selasa (2/1/2024), Dow Jones dibuka terkoreksi 0,50% di level 37.499,54, begitu juga dengan S&P 500 dibuka turun 0,67% di level 4.737,75, dan Nasdaq dibuka anjlok 0,92% 14.873,7.

Pelemahan pada indeks utama Wall Street didukung dari merosotnya saham Apple hingga 3% menyusul penurunan peringkat oleh broker dan imbal hasil Treasury naik karena investor mengurangi ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga tahun ini.

Bagi investor, tahun 2024 merupakan tahun transisi menuju tatanan perekonomian baru. Investor nampaknya yakin bahwa bank-bank sentral utama di negara-negara Barat sudah dekat dengan langkah yang ditunggu-tunggu, mulai dari menaikkan suku bunga hingga memangkasnya. Dampaknya, pasar menguat, namun tahun 2024 dapat memberikan kejutan ketika dunia sedang menyesuaikan diri dengan tatanan ekonomi yang tidak mudah.

Saham-saham global menguat dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah terkemuka turun dalam beberapa pekan terakhir, meskipun para bankir bank sentral memperingatkan terhadap pertaruhan pivot. Di Amerika Serikat, misalnya, investor kini berada pada posisi yang tepat karena The Federal Reserve (The Fed) akan mengarahkan perekonomian ke arah yang sempurna, menurunkan inflasi tanpa memicu resesi.

Keyakinan pasar muncul setelah perekonomian AS mengejutkan banyak orang dengan ketahanannya. Hal ini sebagian ditopang oleh tabungan konsumen akibat pandemi dan daya tarik AS sebagai pelabuhan yang aman untuk investasi di dunia yang semakin kacau. Seorang ekonom yang terkenal dan mantan pejabat The Fed pada awal tahun ini berpendapat bahwa The Fed lebih sering melakukan soft landing dibandingkan yang diyakini secara umum.

Namun banyak investor dan eksekutif berpendapat kemungkinannya rendah. Tabungan di era pandemi semakin menipis dan awan badai mulai berkumpul, terutama menjelang pemilu AS yang akan menjadi kontroversial.

Investor bertaruh bahwa The Fed dapat menurunkan suku bunga sebanyak 1,5% pada akhir tahun 2024, namun hal ini masih akan membuat suku bunga kebijakan mendekati 4%, lebih tinggi dibandingkan dengan dua dekade terakhir. Pada tingkat tersebut, kebijakan moneter masih akan menjadi penghambat pertumbuhan, karena berada di atas tingkat netral dimana perekonomian tidak berekspansi atau berkontraksi.

Ditambah lagi dengan sejumlah risiko lain terhadap perkiraan tahun 2024 yakni dua perang besar, meningkatnya ketegangan geopolitik yang telah membuat globalisasi mengalami kemunduran, dan pemilu di beberapa negara yang secara radikal dapat mengubah tatanan dunia dengan cara yang tidak terduga.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Khawatir Suku Bunga AS Naik Lagi, Wall Street Ditutup Ambles

(saw/saw)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts