Utang Beres, S&P Global Revisi Peringkat BUMI Jadi -b

Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) Global Rating mencabut peringkat ‘CCC’ dari emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan mengubahnya menjadi di level ‘b-‘. Perubahan rating ini pun berdampak pada, status CreditWatch Bumi berubah menjadi implikasi positif.

Read More

Dalam laporannya, S&P menjelaskan emiten batu bara ini kini memiliki outlook dan implikasi positif atas kinerja perusahaan. Kemudian dari sisi profil kredit mandiri (stand-alone credit profile/SACP) BUMI yang membaik setelah pelunasan utang sebesar US$ 1,7 miliar.

“Dengan tidak adanya risiko refinancing jangka pendek, ditambah dengan penguatan profil keuangan dan likuiditas perusahaan, kami merevisi ke atas pandangan kami tentang SACP Bumi menjadi¬† b-“, tulis S&P dikutip dari keterangannya, Jumat (27/1/2023).

Adapun dana pelunasan menggunakan dana US$ 1,6 miliar yang diperoleh dari penerbitan dengan mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement) pada pertengahan Oktober 2022 lalu.

Pelunasan utang dinilai bisa mengurangi dominasi atau kontrol dari kreditur kepada perusahaan. Selain itu, kini BUMI bisa menerima dan mempertahankan pendapatan dari anak usahanya, yang bisa meningkatkan arus kas bebas (free-cash flow) dan likuiditas.

Private placement yang dilakukan membuat perusahaan memilik pengendali baru yakni Mach Energy (Hong Kong) Limited (MEL). Sebagai informasi, Mach Energy Pte. Ltd. adalah perusahaan di bawah Grup Salim, dengan Anthoni Salim memiliki kendali penuh atas Mach Energy Pte. Ltd.

Peringkat BUMI yang ada di CreditWatch dengan implikasi positif saat ini, dapat berpotensi pada peningkatan rating hingga dua tingkat. Namun hal ini tergantung terhadap kelayakan kredit MEL sebagai pemegang saham Bumi Resources.

Menanggapi hal ini, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Dileep Srivastava mengatakan perubahan rating ini akan berdampak positif pada rencana besar BUMI. Dia menyebut perusahaan memiliki rencana jangka panjang di segmen non batu bara dan hilirisasi.

“Kami akan memperkuat optimalisasi, digitalisasi operasi yang ada, dan memaksimalkan margin dan efisiensi. Kamu juga memiliki fleksibilitas untuk mengejar diversifikasi non batu bara,” kata Dileep kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/1/2022).

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Harga Batu Bara Terbang, Pendapatan BUMI Semester I Naik 66%

(rah/rah)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts