Transshipment Hub, Membedah Sikap Pemerintah dan Pelindo

Gagasan membangun transshipment hub di Indonesia telah lama menyeruak ke dalam diskursus publik. Sampai derajat tertentu ide itu malah sudah diwujudkan. Mengacu kepada pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan misalnya, ada tujuh hub yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Belawan/Kuala Tanjung di Sumatra Utara, Tanjung Priok di Jakarta, Kijing di Kalimantan Barat, Tanjung Perak di Jawa Timur, Makassar di Sulawesi Selatan, Bitung di Sulawesi Utara, dan Sorong di Papua Barat.

Segitunya, gagasan itu tetap saja bergerak tanpa henti. Seolah apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan tujuh hub tadi tidak mampu memuaskan rasa dahaga untuk memilikinya. Jangan-jangan yang ditetapkan oleh Luhut bukan hub? Bisa jadi. Belakangan, khususnya setelah empat BUMN pelabuhan dilebur (merger) menjadi satu Pelindo, gagasan transshipment hub melaju makin kencang. Soalnya perusahaan pelabuhan ini sudah mengungkapkan keinginannya untuk membangun barang itu.

Ada beberapa hal yang perlu didudukkan terlebih dahulu sebelum melanjutkan karangan ini. Pertama, ada disparitas makna atas konsepsi transshipment hub atau sering disebut hub saja di tengah masyarakat (kemaritiman). Sepertinya hub dimaknai sebagai pelabuhan utama. Merujuk tujuh hub yang disebut Luhut di atas, empat merupakan pelabuhan utama dan tiga lainnya bukan. Keberadaan pelabuhan utama ini – Tanjung Priok, Belawan, Tanjung Perak Makassar – diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

Sayangnya aturan tersebut tidak secara spesifik menyebut empat pelabuhan tadi sebagai pelabuhan utama. Penjelasan Pasal 70 memberikan catatan apa yang dimaksud pelabuhan internasional. Misalnya, pelabuhan utama berfungsi sebagai pelabuhan internasional dan pelabuhan hub internasional. Lebih lanjut dijelaskan, yang dimaksud pelabuhan internasional adalah pelabuhan utama yang terbuka untuk perdagangan luar negeri. Sementara pelabuhan hub internasional adalah pelabuhan utama yang terbuka untuk perdagangan luar negeri dan berfungsi sebagai pelabuhan alih-muat (transshipment) barang antarnegara.

Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Makassar jelas masuk klasemen pelabuhan utama. Apakah dengan sendirinya menjadi transshipment hub? Nanti akan dibahas. Adapun pelabuhan Kijing, Bitung dan Sorong, jangankan transshipment hub, sebagai pelabuhan utama saja masih jauh levelnya. Tetapi bisa saja status mereka sudah dinaikan sejurus ditetapkan sebagai hub oleh Menko Luhut. Entahlah.

Kedua, terjadi perbedaan, jika tidak hendak disebut rivalitas, antara pemerintah dan badan usaha pelabuhan (BUP) dalam penetapan transshipment hub. Hal ini sebenarnya tidak perlu karena masing-masing pihak memiliki porsinya masing-masing. Di mana pun di dunia ini, penetapan pelabuhan alih muat menjadi tugasnya pemerintah karena ada visi/misi negara di dalamnya. Contohnya Pelabuhan Tanjung Pelepas, Malaysia. Pelabuhan ini dibangun pada era 1990-an ketika Dr. Mahathir Mohammad menjadi perdana menteri.

Pelabuhan Tanjung Pelepas atau Port of Tanjung Pelepas (PTP) berada di Johor Baru, tidak jauh dari Singapura. Kebijakan ini sebetulnya tidak tepat karena PTP jauh dari kota besar atau kawasan industri utama yang terletak di ujung selatan Malaysia. Ini berarti hanya akan ada sedikit barang yang akan keluar-masuk dari pelabuhan itu. Namun, Dr M, panggilan akrab Mahathir Mohamad, tetap membangunnya. Dioperasikan pertama kali pada 1999 dan secara resmi diluncurkannya pada 2000, PTP kini merupakan salah satu pelabuhan penting di kawasan Asia. Ia menjadi pesaing utama pelabuhan Singapura.

Melalui anak usahanya yang bergerak dalam bisnis peti kemas, Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP), Pelindo mulai mengencangkan keinginannya untuk membangun transshipment hub. Orang nomor satu di perusahaan tersebut, Arif Suhartono, dalam beberapa kesempatan mengungkapkan hal tersebut. “Setelah merger ini, obsesi saya adalah bagaimana kita memasuki battle untuk transshipment,” begitu ujarnya kepada media beberapa waktu lalu.

Sayangnya dia tidak mengungkapkan di mana bakal lokasi pelabuhan itu. Dari pernyataan Arif dapat disimpulkan bahwa belum ada transshipment hub/port di Indonesia. Termasuk pelabuhan yang sudah dikategorikan oleh UU Nomor 17 Tahun 2008. Dengan ini pertanyaan apakah Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Makassar merupakan hub terjawab sudah. Sehingga wajar bila Pelindo berniat (berambisi meminjam ucapan Arif Suhartono kepada media) membangun transshipment hub.

Kendati Dirut Pelindo itu tidak menyebut secara spesifik bakal lokasi transshipment hub, dari langkah Pelindo (SPTP) yang menjalin kerja sama dengan Indonesia Investment Authority, sovereign wealth fund-nya pemerintah, sepertinya bakal lokasi itu sudah ditetapkan, yaitu Belawan. Diberitakan oleh media, Pelindo dan Konsorsium INA sepakat untuk mengembangkan Belawan New Container Terminal (BNCT), anak usaha SPTP.

Kerja sama pengelolaan BNCT ini bertujuan untuk mentransformasi Belawan melalui peningkatan kapasitas terminal, direct call, serta konektivitas terminal dan pelabuhan kecil dengan Terminal BNCT, juga pengembangan kawasan industri di sekitar pelabuhan. Kerja sama ini benar-benar menguntungkan kedua belah pihak dan mencapai cita-cita untuk menjadikan Belawan sebagai transportation hub dan menjadi maritime hub di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, jauh hari sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan Kuala Tanjung Multi Purpose Terminal (KMTM) atau Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, akan menjadi pelabuhan hub Internasional. Dia memastikan bahwa fasilitas dan pembangunan ini berjalan dengan baik juga memiliki kapasitas yang bagus. Oleh karenanya kita ingin melakukan suatu percepatan ekspor dan dijadikan sebagai hub internasional selain Tanjung Priok, demikian katanya.

Yang manakah yang akan dijadikan transshipment hub/port? Versi pemerintah adalah Kuala Tanjung (kebetulan operatornya Pelindo juga). Atau, Belawan yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kuala Tanjung. Kuala Tanjung dimotori oleh Kemenhub sedangkan Belawan di bawah asuhan Kemenkeu-Kemeterian BUMN. Jangan lupa, di Tanjung Pinggir, Batam, juga akan dibangun hub besutan Kemenkomarves-Kemenhub. Jika tiba masanya kelak Arif Suhartono mengungkap bakal lokasi hub yang menjadi ambisinya, berarti akan ada empat transshipment port yang berlokasi di sekitar Selat Malaka.

Saya meyakini sang dirut akan menetapkan lokasi yang lain dari pada yang lain. Jujur, saya pernah berdialog empat mata dengannya terkait hub itu dan tahu daerah mana yang akan menjadi lokasinya. Tapi saya diminta tidak membuka sampai tiba masanya. Masih ada sangkutan yang membuatnya tutup mulut. Kita tunggu saja.

(miq/wia)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts