The Fed Melunak, Rupiah Perkasa ke Bawah Rp15.500


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Penguatan rupiah cenderung terpangkas pada penutupan perdagangan Kamis (14/12/2023), setelah sempat melesat lebih dari 1% ditopang oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) yang menahan kembali suku bunga acuannya dan rencana pemangkasan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Dilansir dariRefinitiv pada pukul 15:05 WIB, rupiah ditutup melesat 1,02% di angka Rp 15.495/US$. Rupiah pun mengakhiri pelemahan yang terjadi pada tiga hari sebelumnya.

Sikap The Fed yang mulai melunak membuat indeks dolar AS berbalik arah ke zona merah pada hari ini. Per pukul 15:05 WIB, indeks dolar AS (DXY) melandai 0,08% menjadi 102,78, dari sebelumnya di posisi 103,86 pada perdagangan kemarin. Indeks dolar AS pun membantu penguatan rupiah.


The Fed yang memutuskan untuk kembali menahan suku bunga, serta mulai mengisyaratkan akan ada pemangkasan suku bunga pada tahun depan turut membuat rupiah perkasa pada hari ini.

Pada rapat terakhir The Fed di penghujung tahun ini, suku bunga kembali dipertahankan. Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga sebanyak 550 basis poin (bp) atau selama 11 kali sejak Maret 2023 ke posisi 5,25% – 5,50%.

Hal ini karena inflasi AS yang melandai sesuai dengan ekspektasi pasar, kendati pasar tenaga kerja sempat memanas lagi pada November.

Diketahui, inflasi AS per November 2023 tercatat tumbuh 3,1% (year-on-year/yoy). Inflasi lebih rendah dibandingkan yang tercatat pada Oktober 2023 yakni 3,2% serta sesuai ekspektasi pasar yakni 3,2%.

Inflasi November menjadi yang terendah sejak Juni 2023. Laju inflasi juga sudah jauh melandai dibandingkan puncak tertingginya pada Juni 2022 yang tercatat 9,1%.

Sementara untuk inflasi inti tumbuh 4% yoy, relatif tak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Realisasi inflasi dan inflasi inti kali ini sesuai dengan harapan pasar, tetapi masih cukup jauh dari target the Fed yang mengharapkan inflasi melandai ke kisaran 2%.

Kebijakan the Fed tersebut semakin mengkonfirmasi Perhitungan CME FedWatch memproyeksikan the Fed akan mempertahankan suku bunga mencapai lebih dari 98%.

Bahkan, para pelaku pasar sekarang juga melihat kemungkinan pelonggaran moneter tahun depan, memperkirakan peluang hampir 7,8 % penurunan suku bunga setidaknya 25 bp pada Mei 2024, menurut alat pengukur CME FedWatch.

Prediksi pasar ini pun juga didukung oleh pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, di mana Pernyataan Powell ini jauh lebih lunak dibandingkan pada pertemuan November lalu di mana dia menegaskan masih terlalu premature memikirkan pemangkasan suku bunga.

“Itu (pemangkasan) mulai ada dalam pandangan kami dan menjadi topik diskusi kami,” ucap Powell, dikutip dariReuters.

Powell juga mengatakan jika ekonomi sudah berjalan normal dan The Fed tidak perlu lagi mengetatkan kebijakan suku bunga. Dokumen “dot plot” The Fed menunjukkan jika anggota bank sentral mulai mengindikasikan adanya pemangkasan suku bunga.

Sebanyak 17 anggota memperkirakan pemangkasan suku bunga tahun depan sementara hanya dua yang memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga. Tidak ada anggota FOMC yang memperkirakan suku bunga akan naik tahun depan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Segini Harga Jual Beli Kurs Rupiah di Money Changer

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts