gep-indonesia.org

Terungkap, Sektor Keuangan RI Masih ‘Terbelakang’

Jakarta, CNBC Indonesia – Untuk mewujudkan cita-cita menjadi high income country, Indonesia masih memiliki banyak kekurangan. Salah satunya adalah sektor keuangan yang dangkal dan mahal.

Bahkan, mirisnya lagi sektor keuangan RI menjadi yang terdangkal dan termahal jika dibandingkan dengan negara tetangga yang tergabung dalam ASEAN-5.

Kedalaman sub-sektor keuangan diukur dengan 4 indikator yaitu aset bank, kapitalisasi pasar modal, aset industri asuransi dan dana pensiun terhadap PDB.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengacu pada paparan RUU tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK), aset di sektor keuangan masih didominasi oleh perbankan.

Pada tahun 2015, total aset keuangan Indonesia mencapai Rp 8.053 triliun dan naik menjadi Rp 12.163 triliun pada 2020. Namun komposisinya tetap didominasi oleh perbankan dengan proporsi aset lebih dari 76%.

Kendati paling besar, tetapi total aset perbankan RI hanya 59,5% terhadap PDB. Sementara itu negara lain yaitu Singapura mencapai 572,1%; Malaysia 198,6%; Thailand 146,6% dan bahkan Indonesia kalah dengan Filipina yang aset perbankannya mencapai 99,2% PDB.

Dari sisi nilai kapitalisasi pasar juga Indonesia tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga lain. Rasio market cap pasar modal Indonesia hanya 48,3% PDB.

Padahal negara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand rasionya di atas 100%. Bahkan rasio Filipina juga lebih tinggi atau hampir 2x rasio RI.

Kemudian dari sektor asuransi rasio aset terhadap PDB-nya hanya 5,8% sementara Singapura mencapai 47,5%; Thailand 23,2%; Malaysia 20,3% dan Filipina 8,5%.

Dari sisi aset dana pensiun terhadap PDB, Indonesia masih lebih mending dibandingkan dengan Filipina karena rasio nya mencapai 6,9% sedangkan Filipina hanya 3,5%. Posisi RI sama dengan Thailand.

Namun untuk aset dana pensiun lagi-lagi Indonesia kalah dengan Malaysia dan Singapura yang rasionya mencapai hampir 60% dan 32%.

Tidak hanya paling dangkal, sektor keuangan RI juga masih menjadi yang paling mahal. Salah satu indikatornya adalah kinerja perbankan.

Dari sisi operasional bank yang tercermin dari overhead cost Indonesia menjadi yang tertinggi dibandingkan tetangga ASEAN-5.

Rasio intermediasi perbankan Indonesia yang tercermin dari Net Interest Margin (NIM) perbankan juga paling tinggi.

Tingginya overhead cost dan NIM perbankan membuat masyarakat RI harus menanggung biaya bunga yang tinggi apabila meminjam uang dari bank.

Pada 2021 saja, rata-rata suku bunga pinjaman bank di RI mencapai 8,59% dan menjadi yang paling tinggi di ASEAN disusul oleh Vietnam yang mencapai 7,81%.

Tingginya NIM dan suku bunga bank di Indonesia ini membuat bisnis di sektor perbankan sangatlah gurih untuk dinikmati. Ini juga yang menjelaskan mengapa banyak bank-bank tidak hanya Jepang tetapi juga Singapura, Malaysia, Thailand dan akhir-akhir ini Korea Selatan rajin ekspansi ke RI.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ini Alasan Bank Muamalat Listing di BEI Akhir 2023

(trp)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Exit mobile version