Tembus ke Bawah Rp 15.500/US$, Rupiah Libas 3 Dolar Sekaligus

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah perkasa pada perdagangan Jumat (11/11/2022), melawan dolar Amerika Serikat (AS) bahkan mampu menembus ke bawah Rp 15.500/US$. Dolar Singapura dan Australia juga sukses dilibas.

Melansir data Refinitiv, rupiah sempat melesat 1,34% ke Rp 15.480/US$ pagi ini, sebelum berada di Rp 15.500/US$ pada pukul 12:07 WIB, menguat 1,21%.

Read More

Di saat yang sama, dolar Singapura dan Australia menguat 1,3% dan 1,2% ke Rp 11.201/SG$ dan Rp 10.261/AU$.

Perkasanya rupiah tidak lepas dari ekspektasi bank sentral AS (The Fed) akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya pasca rilis data inflasi.

Seperti diketahui, kenaikan suku bunga The Fed menjadi penyebab utama rupiah tertekan. Ketika The Fed diperkirakan akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya, rupiah pun mendapat tenaga menguat.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (10/11/2022) melaporkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) tumbuh 7,7% year-on-year (yoy). Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya 8,2% (yoy).

Inflasi tersebut sudah mulai menurun sejak Juli lalu, semakin menjauhi rekor tertinggi 40 tahun di 9% yang dicapai pada Juni lalu.

CPI inti dilaporkan tumbuh 6,3% (yoy), turun dari Oktober 6,5% (yoy).

Pasca rilis tersebut, pelaku pasar melihat The Fed akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya pada bulan depan.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, probabilitas suku bunga naik 50 basis poin menjadi 4,25% – 4,5% pada Desember kini sebesar 90%, naik jauh dari hari sebelumnya 56%.


Foto: CME Group

Seperti diketahui, The Fed sebelumnya sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin empat kali beruntun hingga suku bunga saat ini menjadi 3,75% – 4%.

Meski demikian, Presiden The Fed wilayah San Fransisco, Mary Daly mengatakan data inflasi tersebut memang kabar bagus, tetapi masih jauh dari kemenangan.

“Inflasi 7,7% secara tahunan masih terlalu tinggi dan jauh dari target bank sentral sebesar 2%,” kata Daly sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (10/11/2022).

Beberapa pejabat The Fed juga menyambut baik rilis inflasi tersebut, tetapi Presiden The Fed wilayah Dallas, Lorie Logan mengatakan suku bunga masih akan tetapi dinaikkan, meski dalam laju yang lebih lambat.

“Saya percaya mengendurkan laju kenaikan suku bunga akan tepat, jadi kita bisa menilai dengan lebih baik bagaimana perkembangan kondisi finansial dan ekonomi,” kata Logan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Top, Rupiah! Dolar Amerika, Singapura, Australia, Keok Semua

(pap/pap)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts