Soal Hilirisasi Jokowi, Ada Pesan Ngeri dari Bos Freeport


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Program hilirisasi yang didorong oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan dilanjutkan. Para calon penggantinya, seperti Anies Baswedan, Prabowo Subianto, hingga Ganjar Pranowo sepakat melanjutkan program tersebut.

Program hilirisasi yang akan digenjot pun tidak hanya sebatas pada hilirisasi seperti saat ini, namun mengarah pada industrialisasi.

Presiden Jokowi telah berkali-kali menegaskan pentingnya peningkatan nilai tambah bagi komoditas logam dan menjadikan hilirisisasi sebagai salah satu kebijakan prioritas utama. Larangan ekspor nikel yang dimulai tahun 2020 sudah memberikan manfaat tambahan sebesar US$33 miliar atau setara Rp514 Triliun.

Setelah itu, pemerintah telah memberlakukan pelarangan ekspor mineral mentah dalam hal ini bijih bauksit ke luar negeri sejak Juni 2023 lalu. Pemerintah pun tengah bersiap untuk menurup keran ekspor komoditas tambang, seperti di antaranya, timah dan tembaga.

Jokowi juga menegaskan akan terus melanjutkan kebijakan hilirisasi pertambangan meskipun mendapatkan gugatan dari negara lain dan meyakini bahwa kebijakan tersebut akan melompatkan Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju.

Pasar Logam Semakin Ketat, Ini Pesan Bos Freeport

Tahun 2022 lalu, kekurangan pasokan akibat perang di Ukraina, melonjaknya biaya energi, dan pembukaan kembali pandemi pertama kali mendorong harga logam dasar ke level tertinggi beberapa tahun. Kemudian, harga merosot di tengah tahun, terseret oleh kekhawatiran tentang penguncian di China dan prospek resesi AS.

Tahun 2023 harga sejumlah komoditas logam utama telah pulih ke level tertinggi tahun sebelumnya, terangkat oleh pembukaan kembali ekonomi China dan pasokan global yang rendah. Sebelumnya, kebijakan zero covid China telah menurunkan permintaan dari konsumen komoditas terbesar di dunia.

Selain pembukaan kembali yang lebih cepat dari perkiraan di China, Eropa yang mampu melewati musim dingin tanpa krisis energi yang signifikan ikut mengangkat permintaan. Selanjutnya tanda-tanda ketahanan ekonomi AS yang tidak terduga telah meningkatkan harapan akan permintaan yang kuat di masa depan.

Banyak analis memperkirakan penggunaan logam seperti tembaga, litium, dan seng akan terus tumbuh signifikan. Hal in dikarenakan peran sentral logam tersebut untuk transisi energi, termasuk membuat turbin angin hingga panel surya. Namun, meski permintaan akan naik, banyak juga yang memperkirakan pasokan akan tertinggal dari permintaan karena perusahaan pertambangan tidak meningkatkan produksi secara substansial.

Pada presentasi kinerja keuangan kuartal IV-2022, Freeport-McMoRan, salah satu penambang tembaga terbesar di dunia, mengatakan akan melakukan lebih banyak investasi modal pada tahun 2023. Analis juga mengharapkan perusahaan untuk memperpanjang program pembelian kembali saham (buyback) yang agresif sejak tahun lalu.

Perusahaan meningkatkan beberapa operasi di tambang yang ada di Indonesia, tetapi mengatakan industri tembaga tidak memiliki cukup investasi yang direncanakan untuk mengisi kekurangan yang diharapkan dalam jangka panjang.

“Tidak ada cukup tembaga di dunia saat ini,” kata Chief Executive Freeport Richard Adkerson.

“Jumlah tembaga sangat tidak mencukupi sehubungan dengan meningkatnya permintaan yang signifikan.”

Tahun lalu belanja modal Freeport ditargetkan mencapai US$ 5,2 miliar (Rp78 triliun), termasuk US$2,3 miliar untuk pengembangan proyek tambang dan US$ 1,8 miliar (Rp27 triliun) untuk proyek smelter di Indonesia.

Proyek tambang yang sedang digarap Freeport termasuk blok Kucing liar yang diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 6 miliar pound tembaga dan 6 juta ons emas antara tahun 2028 dan akhir tahun 2041. Saat ini memiliki tiga tambang bawah tanah yang beroperasi di Distrik mineral Grasberg: Grasberg Block Cave, Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan.

Kegiatan pengembangan praproduksi Kucing Liar dimulai pada tahun 2022 dan diperkirakan akan berlanjut hingga jangka waktu 10 tahun. Investasi modal diperkirakan rata-rata sekitar US$ 400 juta (Rp 6 triliun) per tahun selama periode tersebut, termasuk sekitar US$ 470 juta (Rp 7,05 triliun) untuk tahun 2023.

Sementara itu proyek smelter dengan kapasitas produksi 1,7 juta ton konsentrat tembaga diperkirakan baru akan beroperasi tahun 2024, dengan proses konstruksi telah selesai 50% hingga akhir tahun 2022.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Jokowi Tinjau Pabrik Hilirisasi Rp60 T Milik Lotte di Cilegon

(fsd/fsd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts