Rupiah Kumat! Melemah Lagi Setelah 3 Hari Menguat

Jakarta, CNBC IndonesiaRupiah tak mampu melanjutkan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (10/11/2022). Mata uang Garuda akhirnya kembali ke jalur pelemahan setelah menguat 3 hari beruntun. 

Read More

Mengacu pada data Refinitiv, Mata Uang Garuda terkoreksi pada pembukaan perdagangan sebesar 0,08% ke Rp 15.675/US$. Pukul 11:00 WIB rupiah kembali tertekan lebih dalam menjadi 0,25% ke Rp 15.697/US$.

Kemudian, rupiah mengakhiri perdagangan hari ini di Rp 15.690/US$, melemah 0,2% di pasar spot. Posisi rupiah hari ini kembali membuat warga RI mesti waspada karena posisinya kian mendekati Rp 15.700/US$ dan masih berada di level yang tinggi sejak 2,5 tahun ini.



Perlemahan rupiah terjadi saat indeks dolar AS yang mengukur kinerja sigreenbackterhadap enam mata uang dunia lainnya terpantau melemah 0,05% ke posisi 110,5. Namun, hal tersebut tampaknya belum berhasil membuat rupiah menguat.

Saat ini, para investor global masih menantikan rilis malam waktu Indonesia. Konsensus analis Reuters dan Trading Economics memprediksikan inflasi AS akan melandai ke 8% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 8,2% di bulan sebelumnya.

Investor cenderung masih khawatir bahwa laporan inflasi nantinya justru akan memberikan sinyal lebih lanjut tentang seberapa jauh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve/The Fed, menjaga agresivitas menaikkan suku bunga untuk menurunkan inflasi.

Melansir konsensus FedWatch, sebanyak 56,8% analis memprediksikan kenaikan sebesar 50 bps, sedangkan sisanya memproyeksikan The Fed masih akan agresif untuk menaikkan suku bunga hingga 75 bps.

Sampai kemarin…pasar tampak seolah-olah akan diposisikan untuk data yang lebih rendah dari perkiraan, yang saya pikir cukup berbahaya mengingat lima dari enam bulan terakhir telah menghasilkan kejutan naik,” tutur Kepala Strategi FX National Australia Bank (NAB) dikutip Reuters.

Dari dalam negeri, datang dari rilis makroekonomi yang makin menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini baik-baik saja.

Bank Indonesia (BI) melaporkan angka penjualan ritel per September 2022 menjadi 4,56% secara tahunan (yoy). Tetap kuatnya penjualan eceran didukung oleh peningkatan penjualan kelompok makanan, Minuman, dan Tembakau serta perbaikan pada kelompok Perlengkapan Rumah Tangga di tengah melambatnya pertumbuhan kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Subkelompok Sandang.

Kinerja penjualan eceran pada Oktober 2022 diprediksikan masih akan tumbuh positif ke 4,51% secara yoy.

Di sisi lainnya, tekanan inflasi pada Desember 2022 dan Maret 2023 diperkirakan akan meningkat. Hal tersebut didorong oleh kenaikan harga bahan baku serta kenaikan permintaan karena akan menghadapi Natal.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Dekati Rp 15.000/US$, Begini Kondisi Money Changer

(aum/aum)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts