Resesi Global Bikin Pusing Pelaku Pasar, Rupiah Terus Melemah

Jakarta, CNBC Indonesia – Kurs rupiah kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pada pertengahan perdagangan Jumat (16/12/2022). Meski sempat berada di zona hijau, tekanan eksternal masih membayangi kinerja mata uang Garuda di pasar spot.

Read More

Mengacu pada data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan rupiah dibuka melemah 0,03% ke Rp 15.620/US$, lalu sempat berbalik arah menguat 0,25% ke Rp 15.590/US$. Kemudian, rupiah malah kembali melemah lebih dalam atau turun 0,06% ke Rp 15.625/US pada pukul 11:00 WIB.

Pelemahan yang dialami oleh rupiah merupakan bagian dari beragam sentimen buruk yang datang dari eksternal. Sentimen pelaku pasar yang memburuk, tidak hanya dirasakan oleh rupiah melainkan juga tercermin dari rontoknya bursa saham AS (Wall Street) dan bursa Eropa membuat rupiah berisiko bergerak volatil hari ini.

Sehari lalu, Fed mengumumkan untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 bps, meski telah diharapkan tapi tetap membuat pasar kembali cemas, pasalnya pejabat The Fed mengindikasikan perlu lebih banyak data yang diperlukan sebelum The Fed mengubah sikap hawkish-nya dan pandangannya tentang inflasi secara signifikan.

Selain The Fed, tiga bank sentral utama dunia yang menaikkan suku bunga kemarin menjadi pemicu jebloknya bursa saham global, dan tentunya tidak menguntungkan bagi rupiah yang merupakan aset emerging market.

Dari Wall Street, Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup ambruk 2,25%, S&P 500 anjlok 2,48% dan Nasdaq Composite longsor 3,23%. Sementara itu dari seberang samudera Atlantik, Indeks DAX Jerman, CAC Prancis, FTSE MIB Italia masing-masing ambrol lebih dari 3%, FTSE100 Inggris turun 0,9%.

Dengan kondisi pandangan hawkish yang tidak mengalami perubahan signifikan, ekonomi global diperkirakan masih akan berada dalam kondisi moneter yang ketat hingga beberapa waktu ke depan. Alhasil, resesi tinggal menghitung hari, dan ada risiko dalam serta panjang.

Eropa diperkirakan akan mengalami resesi di kuartal I-2023, berdasarkan hasil survei terbaru Reuters ke para ekonom.

Kuartal I-2023 tinggal 15 hari lagi, artinya jika prediksi tersebut benar tidak lama lagi Benua Biru akan mengalami resesi.

Memang untuk mengkonfirmasi resesi produk domestik bruto (PDB) harus berkontraksi atau tumbuh negatif dalam dua kuartal beruntun. Namun, rilis data PDB biasanya memakan waktu beberapa hari hingga minggu setelah kuartal berakhir, sehingga kepastian resesi baru akan diketahui paling cepat April 2023.

Median hasil survei dari Reuters menunjukkan kemungkinan resesi terjadi di zona euro sebesar 78%, naik dari survei Oktober lalu sebesar 70%.

Sementara itu ekonom Bank of America memprediksi Negeri Paman Sam akan mengalami resesi di juga di kuartal I-2023, saat PDB-nya mengalami kontraksi 0,4%.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah di Atas Rp 15.000/US$, Bahaya untuk RI?

(fsd/fsd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts