Proses Pemeringkatan Kredit Kini Gunakan AI, Dampaknya Apa?


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga pemeringkat nasional PT Kredit Rating Indonesia (KRI) menyatakan bahwa pihaknya mulai memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu proses analisa risiko.

Presiden Direktur KRI Syaiful Adrian menyatakan, salah satu keunggulan utama AI adalah kemampuannya dalam mengolah jumlah data yang besar dalam waktu singkat. Sebagaimana diketahui, lembaga pemeringkat memiliki akses ke banyak data, mulai dari sejarah keuangan hingga tren industri.

Tak hanya itu, dengan algoritma machine learning, lembaga pemeringkat dapat memprediksi risiko dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Contohnya, dalam menilai kredit, AI dapat mengidentifikasi faktor risiko yang mungkin terlewatkan oleh analisis manusia, membantu menghasilkan peringkat yang lebih akurat.

Kecerdasan buatan juga memungkinkan lembaga pemeringkat untuk mengidentifikasi risiko operasional, risiko pasar, risiko kredit, dan risiko lainnya yang mungkin saling terkait. Hasil penyelidikan ini nanti dipakai untuk mencari hubungan antara faktor-faktor risiko yang berbeda dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana risiko-risiko ini dapat mempengaruhi keseluruhan evaluasi.

“Saya berharap bahwa teknologi AI dapat terus berkembang di Industri jasa pemeringkatan dan menjadi mitra virtual bagi para analis” ungkap Syaiful dalam pertemuan tahunan ACRAA (Asosiasi Lembaga Pemeringkat di Asia) di Bangkok pada tanggal 1 Desember 2023.

Meskipun potensi AI dalam meningkatkan analisis risiko adalah hal yang positif, lembaga pemeringkat juga dihadapkan pada tantangan etis. Pasalnya, penggunaan AI dalam proses pemeringkatan memerlukan kehati- hatian dan pengawasan yang teliti untuk memastikan bahwa algoritma tidak memberikan hasil yang bias dan menyebabkan kebocoran data.

Sebagai informasi, penerbitan surat utang di Indonesia turun 36,77% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 45,99 triliun pada semester I/2023.

Sektor yang paling banyak menerbitkan surat utang pada semester pertama adalah multifinance dengan capaian sebesar Rp15,11 triliun. Angka ini didominasi oleh obligasi atau bonds sebesar Rp13,6 triliun dan sukuk sebesar Rp1,5 triliun.

Sementara itu, sektor modal ventura menjadi yang paling sedikit meluncurkan surat utang. Secara rinci, penerbitan surat utang nasionalnya pada semester I/2023 berkisar di angka Rp240 miliar.

[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts