Perdagangan Perdana 2024, IHSG Cetak Rekor Baru di 7.323,59


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan perdana tahun ini, setelah sempat terkoreksi pada sesi I.

Pada perdagangan Selasa (2/1/2024), IHSG ditutup menguat 0,7% ke posisi 7.323,59. IHSG akhirnya kembali menyentuh level psikologis 7.300 pada hari ini.

Bahkan, IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi barunya atau all time high (ATH) pada hari ini, di mana ATH terakhir IHSG dicetak pada perdagangan 13 September 2022.

Nilai transaksi IHSG pada hari ini mencapai sekitar Rp 6,7 triliun dengan melibatkan sekitar 14 miliar saham berpindah tangan sebanyak 928.990 kali. Sebanyak 320 saham menguat, 240 saham melemah, dan 212 saham stagnan.

Secara sektoral, transportasi menjadi penopang terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 3,34%. Selain transportasi, energi dan bahan baku juga menopang indeks , masing-masing 2% dan 1,89%.

Selain itu, beberapa saham juga turut menjadi penopang IHSG pada akhir perdagangan hari ini. Berikut saham-saham yang menopang IHSG pada perdagangan hari ini.










Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Chandra Asri Petrochemical TPIA 14,48 5.700 8,57%
Bank Mandiri (Persero) BMRI 6,88 6.125 1,24%
Barito Renewables Energy BREN 4,88 7.600 1,67%
Telkom Indonesia (Persero) TLKM 4,69 3.990 1,01%
Adaro Energy Indonesia ADRO 4,08 2.490 4,62%
Barito Pacific BRPT 3,61 1.385 4,14%

Sumber: Refinitiv

Adapun tiga saham milik konglomerat Prajogo Pangestu mendominasi movers atau penopang IHSG pada perdagangan perdana di 2024. Adapun ketiga saham tersebut yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

IHSG mulai berbalik arah ke zona hijau menjelang akhir perdagangan sesi I hari ini. Kemudian di sesi II, IHSG langsung tancap gas dan pada akhir perdagangan hari ini langsung ngacir.

Hal ini terjadi setelah dirilisnya data inflasi Indonesia periode Desember 2023 dan inflasi tahunan 2023. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia mencapai 2,61% sepanjang 2023. Inflasi ini merupakan inflasi terendah sepanjang 20 tahun terakhir.

Hal ini diungkapkan oleh Plt Kepala BPS Amalia A. Widyasanti pada rilis berita resmi statistik (BRS) Selasa (2/1/2024). Namun, menurut Amalia, perhitungan ini mengesampingkan pandemi Covid-19 yang terjadi pada periode 2021-2022.

“Di luar periode terdampak pandemi yakni 2021, inflasi tahun 2023 merupakan inflasi terendah dalam 20 tahun terakhir,” ungkap Amalia dalam rilis BRS.

Amalia menegaskan inflasi tahunan pada 2023 sebesar 2,61% ini didorong oleh inflasi seluruh komponen. Komponen inti tahunan mengalami inflasi sebesar 1,80%. Adapun, dari data BPS, komponen ini memberikan andil 1,1%.

Seperti diketahui komponen inflasi inti menjadi tolak ukur dari daya beli masyarakat. Hal ini karena inflasi inti dipengaruhi oleh faktor interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal, seperti: nilai tukar, harga komoditi internasional, dan perkembangan ekonomi global dan ekspektasi inflasi di masa depan.

Direktur Statistik Harga BPS, Windhiarso Ponco Adi Putranto menegaskan bahwa penurunan inflasi inti tidak menggambarkanadanya penurunan daya beli. Terbukti, belanja masyarakat terkait dengan barang jasa yang bersifat leisure meningkat. Hal ini sekaligus memperkuat pandangan bahwa masyarakat telah kembali ke masa pra-pandemi.

“Masyarakat sudah mulai membeli barang dan jasa khususnya di leisure ya, seperti rekreasi juga naik semua. Jadi secara umum daya belinya enggak turun,” tegasnya.

Di lain sisi, investor juga cenderung optimis bahwa pada tahun ini era suku bunga tinggi akan berakhir. Meski begitu, mereka masih menanti risalah dari bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) terkait pernyataan akan dipangkasnya suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Ngacir 1%, 6 Saham Ini Penopangnya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts