gep-indonesia.org

OJK Minta RI Waspada, Ada Kengerian Tersembunyi Tahun Depan

Jakarta, CNBC Indonesia– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta masyarakat dan dunia usaha pada 2023. Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara menyebutkan langkah hati-hati harus dilakukan karena kenaikan suku bunga terjadi di berbagai belahan dunia.

“Karena suku bunga tinggi, maka bunga kredit akan naik dan ini yang akan membuat perlambatan. Hal itulah yang membuat IMF dan beragam ekonom memproyeksikan ekonomi turun pada 2023,” jelas Mirza kepada CNBC Indonesia, Senin (14/11/2022).

Menurut Mirza, yang dikhawatirkan adalah jika perlambatan atau slowdown perekonomian berlangsung terlalu cepat. Apalagi saat ini, yang tidak bisa diprediksi adalah ketegangan antara Rusia dan Ukraina, meski berbagai berita memperlihatkan katanya akan segera berdamai.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

“Lebih baik berhati-hati, pada 2023 tonenya adalah hati-hati. Namun, melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, kita masih kuat,” tegas Mirza.

Menurut Mirza, selama dua kuartal terakhir, Indonesia mengalami pertumbuhan dan ini sangat baik, karena Indonesia masih bisa bertumbuh, sementara negara lain, termasuk Singapura dan berbagai negara di Eropa sudah melambat.

Di sisi lain, Mirza juga menjelaskan tentang mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang terus merangkak naik hingga membuat kebijakan fiskal dan moneter di negara-negara lain ikut bergejolak. Mirza menjelaskan, usai pandemi Covid-19, pemerintah di berbagai negara melonggarkan pembatasan aktivitas. Hal itu memicu permintaan yang mengakibatkan lonjakan harga yang berujung pada kenaikan inflasi.

Namun, Mirza menikai, yang terjadi di belakangan tahun ini inflasi terjadi karena konflik antar negara seperti Rusia dan Ukraina. Hal itu memicu harga komoditas tambang seperti minyak, batu bara, gandum, dan pupuk meningkat pesat.

“Obatnya memang harusnya menambah suplai, tapi karena suplainya nggak bisa ditambah banyak sehingga yang harus dilakukan adalah menekan permintaan,” ujarnya.

Dalam menekan permintaan, lanjut Mirza, bank sentral di berbagai negara melakukan pengetatan moneter. Hal itu yang menyebabkan suku bunga di berbagai belahan dunia mengalami kenaikan. “Untuk mengatasi problem inflasi ini. Suku bunga AS meningkat cukup pesat. Sebagai mata uang yg memang menjadi mata uang dunia, maka ini yg memang terjadi sebagai strong dolar,” ungkapnya.

“Jadi dolar bukan hanya menguat terhadap rupiah tapi berbagai valuta asing di dunia. Kalau pelemahan rupiah dibandingkan pelemahan mata uang lain relatif tidak banyak dibandingkan mata uang lain terhadap dolar,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


OJK Pilih Senjata Ini Hadapi Perfect Storm Ekonomi Dunia

(RCI/dhf)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Exit mobile version