Neraca Dagang RI Bakal Surplus 30 Bulan, Rupiah Siap Menguat?

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah 0,16% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 15.515/US$ Senin kemarin. Pelemahan tersebut terbilang wajar sebab pada pekan lalu rupiah mampu menguat 1,56%, menjadi penguatan mingguan terbesar dalam dua tahun terakhir.

Bank sentral AS (The Fed) yang mengindikasikan akan terus menaikkan suku bunga menjadi salah satu pemicu kembali melemahnya rupiah.

Read More

Hal tersebut diungkapkan salah satu pejabat elit The Fed, Christopher Waller, ia menyebut investor lebay alias bereaksi berlebihan terhadap data inflasi yang menunjukkan penurunan, dan suku bunga akan tetap dinaikkan.

Sementara itu rilis data neraca perdagangan Indonesia bisa menjadi penggerak rupiah Selasa (15/11/2022).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Oktober sebesar US$ 4,50 miliar. Surplus jauh lebih rendah dibandingkan September 2022 yang mencapai US$ 4,99 miliar.

Jika neraca perdagangan kembali mencetak surplus maka Indonesia sudah membukukan surplus selama 30 bulan beruntun.

Secara teknikal, area Rp 15.450/US$ terbukti menjadi support kuat yang menahan penguatan rupiah yang disimbolkan USD/IDR.

Level tersebut merupakan merupakan Fibonacci Retracement 38,2% dan menjadi ‘gerbang keterpurukan’ bagi rupiah, selama tertahan di atasnya. Terbukti, rupiah terus tertekan setelah menembus level tersebut.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.


Grafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Rupiah sebelumnya terus tertekan sejak menembus ke atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50).

Rp 15.450/US$ bisa menjadi kunci pergerakan rupiah pekan ini. Jika mampu ditembus ditembus dan bergerak konsisten di bawahnya, rupiah berpeluang melanjutkan penguatan.

Indikator Stochastic pada grafik harian sudah cukup lama berada di wilayah jenuh beli (overbought), akhirnya turun tetapi masih jauh dari wilayah jenuh jual sehingga ruang penguatan rupiah masih cukup besar.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.


idrGrafik: Rupiah 1 Jam
Foto: Refinitiv 

Sementara stochastic pada grafik 1 jam, yang digunakan memproyeksikan pergerakan harian bergerak naik dari wilayah oversold. Ini memberikan risiko rupiah kembali melemah apalagi melihat pergerakan rupiah yang membentuk gap pada perdagangan Jumat.

Secara teknikal, suatu aset biasanya akan menutup gap tersebut. Resisten terdekat berada di kisaran Rp 15.540/US$ – Rp 15.550/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah menuju Rp 15.600/US$.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS

(pap/pap)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts