Minggu Lalu Terkapar, Kini Hajar Balik Dolar AS

Jakarta, CNBC IndonesiaNilai tukar rupiah mampu mencatatkan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini. Memang ada beberapa sentimen eksternal yang cukup membuat kinerja rupiah begitu apik dan manis.

Read More

Mata uang Garuda sudah menguat 1,56% sepekan dan mengakhiri perdagangan Jumat kemarin di Rp 15.490/US$, menguat 1,27% di pasar spot. Dalam sebulan rupiah sudah mampu menguat tipis 0,37% meskipun setahun terakhir, rupiah masih mencatatkan pelemahan hingga 8,7%.



Penguatan rupiah terjadi ketika Indeks dolar AS sudah anjlok 2,91% sepekan terakhir. Dengan ini, indeks dolar AS bergerak kian menjauh dari rekor tertingginya sejak 20 tahun di 114,7. Sehingga, peluang rupiah menguat pun menjadi terbuka lebar.

Isu resesi ekonomi global di tahun 2023 masih menjadi sentimen utama yang menggerakkan pasar akhir-akhir ini. Adanya peluang ekonomi global tumbuh melambat bahkan jatuh ke jurang resesi karena kebijakan bank sentral yang tidak akomodatif lagi alias diperketat.

Seperti diketahui, kenaikan suku bunga The Fed menjadi penyebab utama rupiah tertekan. Ketika The Fed diperkirakan akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya, rupiah pun mendapat tenaga menguat.

Meski demikian di tengah tekanan ekonomi global saat ini rupiah sudah mulai menunjukkan kekuatannya. Pekan ini saja ada beberapa sentimen positif bagi rupiah pertama terkait rilis produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III-2022 mencapai 5,72% secara tahunan (year on year/yoy).

Angin segar juga datang dari Negeri Paman Sam yang berhasil membuat rupiah menjauhi level tertingginya

Tingkat inflasi yang mengacu Indeks Harga Konsumen Amerika Serikat naik hanya 0,4% pada Oktober dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Sementara inflasi tahunan tercatat melandai ke 7,7% year-on-year/yoy.Sementara inflasi inti bertumbuh 0,3% mtm dan 6,3% yoy.

Ini merupakan kenaikan tahunan terendah sejak Januari. Ekonom mengharapkan kenaikan 0,6% mtm dan 7,9% yoy.

“Suku bunga masih menjalankan segalanya di pasar,” kata Tim Courtney dari Exencial Wealth.

“Dengan turunnya angka CPI hari ini, pasar sekarang bertaruh dengan cukup jelas bahwa mereka berpikir [kenaikan] suku bunga akan segera berakhir. Jadi, Anda melihat saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga itu bekerja dengan sangat, sangat baik.”

Inflasi sering dijadikan sinyal para investor kaitannya dalam kebijakan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserves/The Fed. Ketika inflasi saat ini mulai mendingin, ekspektasi bahwa The Fed akan mengurangi sifathawkishmenguat.

Sesaat setelah pengumuman inflasi, para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, lebih rendah dari sebelumnya yakni 75 basis poin.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, probabilitas suku bunga naik 50 basis poin menjadi 4,25% – 4,5% pada Desember kini sebesar 90%, naik jauh dari hari sebelumnya 56%.

Meski demikian, Presiden The Fed wilayah San Fransisco, Mary Daly mengatakan data inflasi tersebut memang kabar bagus, tetapi masih jauh dari kemenangan.

Beberapa pejabat The Fed juga menyambut baik rilis inflasi tersebut, tetapi Presiden The Fed wilayah Dallas, Lorie Logan mengatakan suku bunga masih akan tetapi dinaikkan, meski dalam laju yang lebih lambat.

“Saya percaya mengendurkan laju kenaikan suku bunga akan tepat, jadi kita bisa menilai dengan lebih baik bagaimana perkembangan kondisi finansial dan ekonomi,” kata Logan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


Artikel Selanjutnya


Rupiah Sepekan Melemah 0,10%, Masih Dekati Rp 15.000/US$

(aum/cha)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts