gep-indonesia.org

Mayoritas Mata Uang Asia Nanjak, Rupiah Apa Kabar?

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah berhasil melibas dolar Amerika Serikat (AS) hingga pada pertengahan perdagangan Senin (14/11/2022), seiring dengan penguatan mayoritas mata uang di Asia. Meski indeks dolar AS menguat. Apa penyebabnya?

Mengacu pada data Refinitiv, Mata Uang Garuda terapresiasi pada pembukaan perdagangan sebesar 0,23% ke Rp 15.445/US$. Sayangnya, rupiah memangkas penguatannya menjadi 0,11% ke Rp 15.473/US$ pada pukul 11:00 WIB.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja si greenback terhadap enam mata uang dunia lainnya, terpantau menguat 0,45% ke posisi 106,77. Namun, kian bergerak menjauh dari rekor tertingginya selama dua dekade di 114,7 sehingga membuka peluang rupiah untuk menguat hari ini.

Dari dalam negeri, investor patut mencermati sentimen pekan ini yakni rilis data Neraca Perdagangan Indonesia per Oktober 2022 yang dijadwalkan akan dirilis pada Selasa (15/11/2022).

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis neraca perdagangan Indonesia pada September 2022 yang kembali mencetak surplus senilai US$ 4,99 miliar.

Posisi tersebut melampaui prediksi konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga memperkirakan surplus neraca perdagangan pada September sebesar US$ 4,85 miliar.

Ekspor Indonesia pada September 2022 mencapai US$ 24,80 miliar, tumbuh 20,28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Realisasi ekspor merupakan terendah sejak Mei 2022.

Sedangkan, impor pada September 2022 mencapai US$ 19,81 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi pers, Senin (17/10/2022)mengatakan bahwa impor alami peningkatan 22,01% dibandingkan September 2021. Akan tetapi peningkatan impor tidak sebesar 2021 yang mencapai 40,31%.

Selain itu, investor juga masih menantikan rilis kebijakan moneter terbaru dari Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (17/11).

Di sisi lainnya, rilis data ekonomi dari Tanah Air sejak awal November menunjukkan bagaimana bagusnya perekonomian Indonesia dan jauh dari resesi.

Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober sebesar 120,3, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 117,2. IKK menggunakan angka 100 sebagai ambang batas antara zona optimis dan pesimis. Di atasnya 100 artinya optimis, semakin tinggi tentunya semakin bagus.

Saat konsumen semakin optimistis, maka belanja bisa mengalami peningkatan yang pada akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seperti diketahui, porsi daya beli masyarakat berkontribusi sebanyak 50% terhadap ekonomi RI. Hal tersebut juga tercermin pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2022 yang tumbuh melesat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan realisasi produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III-2022 tumbuh 5,72% (year on year (yoy). Rilis tersebut sedikit lebih tinggi dari proyeksi pemerintah 5,7%, dan Bank Indonesia (BI) 5,5%.

Kuatnya perekonomian dalam negeri dapat menjadi bantalan terhadap tekanan dari eksternal termasuk kenaikan suku bunga di negara-negara berkembang yang berpotensi mendorong ekonomi global masuk ke jurang resesi.

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS, di mana yuan China dan ringgit Malaysia memimpin penguatan masing-masing sebesar 0,99% dan 0,98%. Disusul oleh baht Thailand, dolar Taiwan dan rupiah.

Sedangkan, yen Jepang yang berstatus mata uang safe haven, harus terkoreksi paling tajam sebesar 0,22% di hadapan dolar AS.



TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Balik Ke Level Rp 14.900/US$ Lagi! BI Jadi Kunci?

(aaf/aaf)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Exit mobile version