Masih Ngegas! Rupiah Mulai Dekati Rp 15.400/US$

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Senin (14/11/2022), setelah mencatat kinerja mingguan terbaik dalam dua tahun terakhir. 

Read More

Melansir data Refintiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,23% ke Rp 15.455/US$. Sepanjang pekan lalu rupiah mampu menguat 1,56%, menjadi yang terbesar sejak awal November 2020 lalu.

Penguatan tersebut dipicu merosotnya indeks dolar AS akibat ekspektasi The Fed (bank sentral AS) yang akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya. Sepanjang pekan lalu, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut merosot 4,14% ke 106,29, terendah dalam 3 bulan terakhir.

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat yang mulai naik, serta inflasi yang menurun menjadi penyebab munculnya ekspektasi tersebut.

Sementara itu di pekan ini, ada Bank Indonesia (BI) yang menjadi perhatian utama. Hasil polling Reuters menunjukkan BI akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Jika terealisasi, tentunya akan menjadi sentimen positif yang bisa mendongkrak penguatan rupiah pekan ini.

Peluang BI untuk kembali menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi terbuka lebih lebar setelah perekonomian Indonesia tumbuh tinggi di kuartal III-2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal bulan ini mengumumkan realisasi produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III-2022 tumbuh 5,72% (year on year/yoy). Rilis tersebut sedikit lebih tinggi dari proyeksi pemerintah 5,7%, dan Bank Indonesia (BI) 5,5%.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 institusi juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6%.

Pertumbuhan tersebut cukup tinggi, bahkan jika menghilangkan periode anomali akibat low base effect pada kuartal II-2021, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 adalah yang tertinggi sejak kuartal IV-2012 atau dalam 10 tahun terakhir di mana ekonomi Indonesia tumbuh 5,87%.

Sehari setelahnya, Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober sebesar 120,3, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 117,2. IKK menggunakan angka 100 sebagai ambang batas antara zona optimis dan pesimis. Di atasnya 100 artinya optimis, semakin tinggi tentunya semakin bagus.

Saat konsumen semakin optimistis, maka belanja bisa mengalami peningkatan yang pada akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seperti diketahui, belanja rumah tangga merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, di kuartal III-2022 kontribusinya lebih dari 50%.

Dengan konsumsi yang diperkirakan masih kuat, apalagi dengan inflasi yang mulai menurun, BI tentunya bisa kembali menaikkan suku bunga. Pertumbuhan ekonomi mungkin akan sedikit diredam, tetapi bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depannya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS

(pap/pap)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts