Kinerja GOTO Membaik, Investor Kok Masih Kurang Pede?

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten teknologi hasil merger dua raksasa startup RI, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), mencatatkan perbaikan kinerja yang signifikan pada tiga bulan yang berakhir September. Meski demikian, investor masih secara masif melego saham emiten yang ikut didirikan oleh Nadiem Makarim tersebut.

Read More

Pada perdagangan Kamis (8/12) pagi, saham GOTO kembali tersungkur menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) dari awal lonceng perdagangan dideringkan. Saham GOTO saat ini diperdagangkan di harga Rp 100 per saham – turun 70% dari harga IPO – dengan kapitalisasi pasar tersisa Rp 118,44 triliun.

ARB hari ini merupakan yang kesembilan hari beruntun. Sementara itu, perusahaan juga secara eksklusif berakhir di zona merah dalam 14 hari perdagangan terakhir. Pelemahan ini sudah dimulai sebelum periode penguncian saham yang resmi berakhir 30 November lalu, karena investor menimbang dan mengantisipasi prospek saham GOTO.

Kinerja Keuangan Membaik

GOTO yang merupakan eks perusahaan rintisan teknologi memang oleh banyak investor diharapkan masih akan terus mencatatkan kerugian bisnis dalam beberapa waktu ke depan karena masih berperang dengan sejumlah kompetitor demi memperbesar dan menjaga pangsa pasar serta akuisisi pelanggan.

Perusahaan pada hari Kamis Publik Eskpose Insidental, salah satunya untung mengembalikan kepercayaan diri investor bahwa GOTO sudah berada di jalur yang tepat untuk mendapatkan profitabilitas.

Manajemen GOTO memaparkan bahwa perusahaan terus melanjutkan rasionalisasi insentif dan lebih efisien dalam pemasaran produk. Selain itu manajemen juga menyebut bahwa GOTO telah dana akan terus melakukan upaya efisiensi melalui 130 inisiatif optimalisasi beban lintas fungsi. Meski demikian perusahaan juga mencatat faktor risiko yang dapat mempengaruhi bisnis perusahaan, khususnya yang disebabkan oleh ketidakpastian kondisi makroekonomi, kondisi pasar modal dan kompetisi.

Selama tiga bulan yang berakhir di September, perusahaan mencatatkan perbaikan margin kontribusi hingga 41% dari kuartal sebelumnya (qtq) dan membaik 43% secara tahunan (yoy). EBITDA yang disesuaikan juga ikut membaik dari kuartal sebelumnya maupun dibandingkan dengan kuartal tiga tahun lalu.

Hingga akhir kuartal ketiga tahun ini perusahaan masih mencatatkan kerugian bersih Rp 20,32 triliun, dengan pendapatan mencapai Rp 7,97 triliun atau melonjak 134% secara tahunan.

Meski masih mencatatkan kerugian, angka tersebut sejatinya menyusut secara kuartalan sejak tiga bulan terakhir tahun 2021. Pada saat bersamaan, perusahaan juga secara konsisten mencatatkan kenaikan pendapatan yang signifikan.


Perusahaan dalam pubex insidental juga mengungkapkan bahwa pendapatan bruto kuartalan masih tumbuh dua digit, dengan kenaikan terbesar dicatatkan oleh GoTo Finansial.

Perusahaan sebelumnya juga telah meluncurkan sejumlah produk dan layanan baru demi menjaga pendapatan berulang, termasuk paket langganan PLUS di Tokopedia dan layanan cicilan gopaylater cicil. Pengguna plus disebutkan telah mencapai lebih dari 50 ribu, tanpa merinci laju penetrasi dibandingkan dengan total pelanggan bulanan yang aktif berbelanja. Perusahaan juga menyebut platform cicilan telah tersedia kepada empat juta pelanggan, dan juga tidak merinci berapa banyak yang sudah aktif menggunakan layanan tersebut.

Dalam pubex kali ini perusahaan tidak memberikan informasi tambahan baru terkait aksi korporasi penambahan modal melalui skema private placement yang telah disetujui investor pertengahan tahun lalu. Perusahaan menyebut waktu pelaksanaan masih dalam kajian, tanpa memberikan informasi lain seperti daftar calon investor strategis yang akan masuk. Hal ini pada akhirnya ikut menjadi sentimen negatif atas pergerakan saham GOTO.

Kinerja Saham Masih Tertekan

Pelemahan saham GOTO selama 14 hari beruntun ikut menyeret kinerja indeks acuan bursa secara lebih luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat selalu ditutup merah sejak awal bulan ini atau bertepatan dengan hari pertama pembukaan penguncian saham GOTO.

Selain nyaris secara eksklusif menjadi top laggard atau pemberat kinerja IHSG secara langsung dalam beberapa hari terakhir, buruknya performa saham GOTO ikut menyeret emiten lain. Bank Jago (ARTO) yang prospek bisnis ikut tergabung dalam ekosistem GOTO dan juga dimiliki oleh anak usaha GOTO juga mengalami pelemahan signifikan tiga pekan terakhir.

Dalam 14 hari perdagangan terakhir, saham ARTO tercatat hanya mampu menguat dalam satu hari perdagangan saja. Sebelumnya, ARTO juga telah mencatatkan kinerja buruk tahun ini yang mana sejak awal tahun harga sahamnya telah jeblok 76%.

Penyampaian pubex yang menawarkan harapan akan perbaikan kinerja GOTO yang lebih baik lagi di masa depan, tidak direspons oleh investor yang masih terus melego saham emiten karya anak bangsa tersebut.

Tekanan aksi jual tampaknya juga dibebani oleh sejumlah investor awal yang sepertinya ikut melakukan divestasi di saham GOTO. Akan tetapi hal ini tidak dapat dikonfirmasi langsung, mengingat terdapat banyak investor utama yang menguasai 63,04% saham GOTO yang semula dikunci delapan bulan. Masing-masing investor tersebut menggenggam kurang dari 5%, sehingga penjualan sahamnya tidak akan mentriger pengungkapan di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

TIM RISET CNBC INDONESIA

Sanggahan: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham terkait. Keputusan investasi sepenuhnya ada pada diri anda, dan CNBC Indonesia tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


GOTO Dinilai On Track Raih Profit! Begini Analisisnya

(fsd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts