Ketahuan Cuci Uang Perusahaan Iran, Saham Bank Raksasa Eropa Ambruk


Read More

Jakarta CNBC Indonesia – Saham Santander Bank dan Lloyds Bank terpukul oleh laporan bahwa Iran menggunakan rekening untuk menghindari sanksi yang didukung oleh badan intelijen.

Laporan surat kabar Financial Times (FT) melaporkan bahwa Iran menggunakan rekening yang disimpan di bank-bank di Inggris untuk secara diam-diam memindahkan uang ke seluruh dunia sebagai bagian dari skema penghindaran sanksi.

Mengutip Reuters, dokumen yang diterbitkan surat kabar FT menyebut Lloyds dan Santander UK memfasilitasi rekening untuk perusahaan-perusahaan samaran Inggris yang dimiliki secara diam-diam oleh perusahaan petrokimia Iran yang terkena sanksi dan berbasis di London.

Saham induk Santander yang berbasis di Madrid turun sebanyak 5,8%, sementara saham Lloyds turun 1,8%. Padahal, saham Santander naik lebih dari 6% minggu lalu setelah pendapatan tahun 2023 yang mengalahkan perkiraan.

“Pasar pasti menyadari bahwa mereka mungkin akan didenda,” kata Nuria Alvarez, seorang analis di pialang yang berbasis di Madrid.

Pemberi pinjaman Eropa, seperti Unicredit dan Standard Chartered, telah terkena denda besar atas sanksi Iran di masa lalu, dengan pemberi pinjaman asal Italia tersebut disuruh membayar US$ 1,3 miliar kepada pihak berwenang AS untuk menyelesaikan penyelidikan.

Sementara itu, Standard Chartered setuju untuk membayar US$1,1 miliar pada tahun 2019 kepada pihak berwenang AS dan Inggris atas transaksi keuangan yang melanggar sanksi terhadap Iran dan negara-negara lain.

Perusahaan Komersial Petrokimia yang dikendalikan oleh pemerintah Iran merupakan bagian dari jaringan yang dituduh AS telah mengumpulkan ratusan juta dolar untuk Pasukan Quds Garda Revolusi Iran dan bekerja sama dengan badan-badan intelijen Rusia.

Seorang juru bicara Santander mengatakan bahwa bank tersebut menolak untuk mengomentari hubungan dengan nasabah tertentu. Ia menyebut Santander mematuhi kewajiban hukum dan peraturan dan “sangat fokus pada kepatuhan terhadap sanksi,” kata orang tersebut.

“Jika kami mengidentifikasi risiko sanksi, kami akan menyelidiki dan mengambil tindakan yang tepat. Kegiatan bisnis Grup dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap undang-undang sanksi yang berlaku,” kata seorang juru bicara Lloyds.

“Kami berkomitmen untuk mematuhi semua persyaratan legislatif dan peraturan yang berkaitan dengan kejahatan ekonomi. Kami tidak diizinkan untuk mengomentari nasabah perorangan,” sebutnya.

[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts