Indikator Ini Disebut Jadi Tanda Indonesia Aman dari Resesi

Jakarta, CNBC Indonesia – HSBC Indonesia kembali mengadakan HSBC Wealth Forum yang bertajuk ‘2023 Soaring Above the Storm-Recession or Investment Opportunity‘ di Medan, Sumatera Utara, pada 28 November yang lalu.

Read More

HSBC Indonesia mengundang para ekonom untuk membahas gejolak ekonomi serta peluang dari perekonomian yang tengah dibayangi kemungkinan terjadinya resesi pada 2023. Ekonom Mandiri Sekuritas, Imanuel Reinaldo mengatakan, ekonomi global sedang dilanda Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA).

Ekonomi global pun beranjak dari krisis Covid-19 ke periode stagflasi karena adanya perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan perekonomian dunia penuh ketidakpastian.

“IMF berulang kali merevisi ke bawah, di mana perekonomian global sudah direvisi 4,4% ketika pertama kali mengeluarkan outlook di 2022. Dan saat memasuki Oktober kemarin IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3,2%,” ujar Imanuel, Senin (5/12/2022).

Namun demikian, perekonomian Indonesia masih mengandalkan domestik, sehingga berbeda dengan kebanyakan negara lain. Hal ini pun membuat Indonesia diproyeksi lebih aman dari ancaman resesi, apalagi harga komoditas saat ini tengah melonjak.

Imanuel menyebutkan beberapa indikator yang akan membuat Indonesia bertahan dalam ancaman ekonomi. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang baik. Pada kuartal III-2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,7%, didukung konsumsi domestik yang kuat.

“Mobilitas masyarakat saat ini berada pada 10-20% di atas level pra-Covid-19, sehingga konsumsi yang berkaitan dengan mobilitas mengalami peningkatan signifikan,” jelasnya.

Kedua, dari sisi investasi yang pertumbuhannya sangat baik, dengan investasi asing tumbuh mencapai 60%. Adapun pendorong investasi tersebut adalah dari sektor non-konstruksi.

Ketiga, penyerapan tenaga kerja yang optimal. Hal ini karena capex cycle dari para perusahaan yang meningkat dan tercermin dari menurunnya unemployment rate. Selain itu, kualitas employment yang cenderung membaik membuat sektor formal memiliki pertumbuhan lebih baik.

“Kalau dilihat berdasarkan sektor, employment di sektor manufaktur yang bisa menyerap banyak tenaga kerja sudah sampai ke level pra-Covid-19,” terang Imanuel.

Keempat, fundamental makroekonomi yang baik karena harga komoditas yang tinggi sehingga Indonesia mengalami tren surplus yang sangat tinggi. Hal ini membuat performa Rupiah lebih stabil ketimbang mata uang negara lain.

Keempat hal tersebut membuat, kekuatan ekonomi domestik Indonesia akan tetap resilient menjelang 2023, dengan tetap ada beberapa risiko global yang harus dicermati.

“Dari sisi inflasi, kita melihat ini akan ternormalisasi ke 4% di 2023, bahkan tidak menutup kemungkinan di bawah 4%. Pemerintah tahun ini menaikkan harga BBM sehingga inflasi Indonesia naik yang tadinya hanya 3% ke 5,7%. Namun angka itu di bawah estimasi banyak ekonom Indonesia yang memprediksi awalnya bisa mencapai 7-8%,” tambah Imanuel.

Untungnya, inflasi Indonesia tetap stabil karena ketika harga BBM naik, harga pangan turun karena upaya pemerintah untuk subsidi biaya logistik pangan dan juga masa panen lebih baik. Hal ini tentunya membuat inflasi pangan tidak menjadi momok setelah kenaikan harga BBM.

“Sehingga inflasi dari sisi pangan akan tetap stabil hingga tahun ke depan sehingga inflasinya bisa kembali di bawah 4%, ini akan mendukung sisi domestik,” terang Imanuel.

Apalagi, tahun depan perekonomian Indonesia akan didukung oleh tahun pemilu, di mana konsumsi institusi non-profit selalu mengalami pertumbuhan lebih tinggi dibanding tahun yang lain. Selain itu, konsumsi juga akan menguat karena UMR 2023 akan tumbuh lebih tinggi.

Dalam kesempatan yang sama, Director PT Ashmore Asset Management, Steven Satya Yudha mengungkapkan yang akan dihadapi pada 2023 berbeda dengan siklus ekonomi selama 3 sampai 5 tahun lalu. Sehingga diperlukan pemikiran yang dinamis dan sangat berbeda.

Dengan kondisi seperti itu atau inflasi yang lebih tinggi dibandingkan suku bunga, dia menyebut bahwa ekuitas menjadi instrumen investasi yang bisa dipilih.

“Selama inflasi lebih besar dari suku bunga, itu marketnya equity. Kecuali memang mau pegang bond untuk jangka waktu lebih panjang. Tapi kembali lagi, inflasi lebih besar (dibandingkan suku bunga),” jelas dia.

Steven juga mengungkapkan, bahwa indeks kinerja Indonesia tercatat positif di 2022 karena melakukan lindung nilai inflasi terhadap sektor komoditi, energi, dan perbankan. Di mana indeks Indonesia sebesar 50% adalah lindung nilai terhadap inflasi.

Namun, pada 2023, dengan adanya agenda pemilu, sektor konsumer menjadi lebih menarik. Sehingga untuk investasi di reksa dana, perlu melakukan pendekatan yang aktif karena mengikuti pergerakan indeks yang berubah-ubah.

Di samping ekuitas, Steven juga mengungkapkan, bahwa obligasi dolar bisa menjadi pilihan. Menurutnya, ketika situasi akan kembali normal yakni saat inflasi mencapai puncak, imbal hasil obligasi selamanya tidak ada di posisi sekarang sehingga USD bond menawarkan value lebih atraktif.

“Mungkin boleh coba lirik USD bond. Ini strategi yang komprehensif karena obligasi adalah aset yang paling dijauhi tahun ini. Tapi jangan lupa bahwa USD bond sekaligus menjadi aset paling murah di 2022,” tegas Steven.

Apalagi, tahun depan perekonomian Indonesia akan didukung oleh tahun pemilu, ketika tahun pemilu, konsumsi institusi non-profit selalu mengalami pertumbuhan lebih tinggi dibanding tahun yang lain. Selain itu, konsumsi juga akan menguat karena UMR tahun 2023 akan tumbuh lebih tinggi.

HSBC Wealth Forum secara eksklusif diadakan di 3 kota untuk para Nasabahnya, yakni di Jakarta pada 23 November 2022, Medan pada 28 November 2022, dan Surabaya pada 9 Desember 2022 ini. HSBC kembali menegaskan komitmen untuk terus mendukung strategi perencanaan finansial dari para Nasabahnya dalam menghadapi segala kondisi ekonomi.

HSBC mengedepankan financial solution approach agar strategi keuangan Nasabah dapat teridentifikasi untuk kebutuhan protection, education, retirement, managing wealth, dan legacy.

Selain itu,HSBC memiliki tools efektif yang dapat mengidentifikasi kebutuhan finansial Nasabah sehingga Nasabah bisa mengetahui berapa besar yang dibutuhkan, dipersiapakan, dan gap yang harus dipenuhi. HSBC memahami setiap individu memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda dalam setiap tahap kehidupan, sehingga memerlukan perencanaan keuangan yang spesifik sesuai dengan ambisi masing-masing Nasabah yang beragam.

Sebagai informasi, HSBC Indonesia baru-baru ini juga memenangkan penghargaan internasional The Best Wealth Manager di Indonesia untuk yang kelima kalinya berturut-turut dari The Asset Triple A Private Capital Awards sejak 2018. Penghargaan ini merupakan wujud nyata kepercayaan dan kesetiaan para Nasabah, serta konsistensi untuk terus mengedukasi dan menjadi thought leader dalam bidang wealth management di Indonesia selama ini.

 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ancaman Resesi Nyata, Ini Investasi yang Bisa Kasih Cuan Gede

(rah/rah)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts