IHSG Lesu Lagi, 6 Saham Big Cap Ini Jadi Pemberatnya


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (25/1/2024), di tengah sikap investor yang masih cenderung wait and see dan minimnya sentimen dari dalam negeri pada hari ini.

IHSG ditutup melemah 0,69% ke posisi 7.178,04. IHSG kembali terkoreksi ke level psikologis 7.100 pada perdagangan hari ini.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan hari ini mencapai sekitaran Rp 9,7 triliun dengan melibatkan 15 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1 juta kali. Sebanyak 260 saham menguat, 258 saham melemah, dan 248 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor keuangan menjadi pemberat terbesar IHSG pada hari ini, yakni sebesar 1,78%.

Selain itu, beberapa saham juga memperberat (laggard) IHSG pada hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.

Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Sinarmas Multiartha SMMA -15,90 19.100 -10,64%
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI -14,57 5.525 -2,21%
Bank Mandiri (Persero) BMRI -11,36 6.275 -1,95%
Barito Renewables Energy BREN -4,85 5.250 -2,33%
Bank Negara Indonesia (Persero) BBNI -2,72 5.400 -1,37%
Bayan Resources BYAN -2,40 19.550 -0,76%

Sumber: Refinitiv

Emiten jasa keuangan Grup Sinarmas yakni PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) menjadi pemberat terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 15,9 indeks poin.

Tak hanya itu, tiga saham perbankan jumbo juga menjadi laggard IHSG pada hari ini, yakni saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 14,6 indeks poin, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 11,4 indeks poin, dan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 2,7 indeks poin.

Minimnya sentimen dari dalam negeri dan investor yang masih cenderung wait and see membuat IHSG kembali berakhir di zona merah pada hari ini. Meski begitu, selama dua pekan terakhir, IHSG cenderung mendatar atau sideways.

Koreksi IHSG terjadi di tengah membaiknya kembali perekonomian Amerika Serikat (AS), sehingga membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dipangkas tahun ini lebih lambat dari perkiraan.

Data PMI Manufaktur flash AS naik lebih tinggi dari konsensus dan periode satu bulan sebelumnya, yakni dari 47,9 menjadi 50,3.

Sedangkan, PMI Composite AS pada Januari 2024 secara flash menunjukkan ada kenaikan PMI dari 50,9 menjadi 52,3 dan lebih tinggi dari perkiraan yang proyeksi turun ke posisi 50,3.

Nilai PMI manufaktur di atas 50, menunjukkan kondisi manufaktur AS di fase ekspansif.

Data PMI menjadi hal yang penting karena semakin tingginya PMI, maka aktivitas manufaktur AS akan bergerak cukup panas dan berpotensi membuat inflasi semakin sulit dikendalikan.

Sementara data ketenagakerjaan AS juga masih terbilang cukup panas bahkan di atas ekspektasi pasar.

Biro Ketenagakerjaan AS melaporkan penurunan klaim awal tunjangan pengangguran sebanyak 16.000 menjadi 187.000 untuk pekan yang berakhir 13 Januari 2024.

Klaim pengangguran AS menandai posisi terendah sejak September 2022, meleset jauh dari perkiraan yang proyeksi naik ke 207.000, menurut penghimpun data Trading Economics.

Sementara data pekerjaan di luar pertanian atau Non-Farm Payroll (NFP) pun tercatat naik ke 216.000 pada Desember 2023. Nilai tersebut diluar perkiraan yang proyeksi turun ke 170.000, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 173.000 pekerjaan.

Hal ini semakin membuat pasar berekspektasi bahwa pemangkasan The Fed pada Maret 2024 berpotensi urung dilakukan karena masih panasnya data tenaga kerja AS dan data ekonomi AS termasuk data inflasi.

Berdasarkan perangkat CME Fedwatch, pasar melihat kemungkinan Federal Fund Rate (FFR) akan dipangkas ke target 5,00%-5,25% pada Maret 2024 turun menjadi 42,4%. Sebagai informasi, saat ini target FFR adalah 5,25%-5,5%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


IHSG Loyo di Perdagangan Perdana 2024, Ini Penyebabnya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts