IHSG Happy Weekend, Duet BMRI dan BBRI Jadi Penopang Utama


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri pekan ini di zona hijau, meski sentimen pasar global pada hari ini cenderung kurang menggembirakan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (12/1/2023), IHSG ditutup menguat 0,29% ke posisi 7.241,138. IHSG masih bertahan di level psikologis 7.200 hingga sesi I hari ini.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp 9 triliun dengan melibatkan 17 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,2 juta kali. Sebanyak 228 saham terapresiasi, 281 saham terdepresiasi, dan 257 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor industri menjadi penopang terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 0,84%.

Selain itu, beberapa saham juga turut menjadi penopang IHSG pada akhir perdagangan hari ini. Berikut saham-saham yang menopang IHSG pada perdagangan hari ini.









Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI 11,79 5.850 1,74%
Bank Mandiri (Persero) BMRI 11,50 6.575 1,94%
Bank Central Asia BBCA 8,69 9.700 1,31%
Telkom Indonesia (Persero) TLKM 2,36 4.010 0,50%
Astra International ASII 2,27 5.600 0,90%

Sumber: Refinitiv

Saham perbankan raksasa atau big four menjadi penopang IHSG pada hari ini, dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling besar, yakni mencapai 11,8 indeks poin.

Selain BBRI, ada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang juga menjadi movers IHSG sebesar 11,5 indeks poin, kemudian PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 8,7 indeks poin.

IHSG menguat meski ada kabar kurang menggembirakan dari China dan Amerika Serikat (AS). Dari China, deflasinya pada Desember 2023 memang sudah mulai membaik yakni hanya deflasi 0,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari sebelumnya yang deflasi 0,5% pada November 2023.

Namun, China masih mengalami deflasi hingga akhir 2023. Hal ini juga menyebabkan prospek perdagangan ekspor-impor terganggu. Untuk impor China pada Desember 2023 yang akan rilis pada hari ini juga diperkirakan masih akan terkontraksi sebesar -0,5% yoy, menurut penghimpun data Trading Economics.

Di lain sisi, untuk ekspor China pada Desember 2023 diproyeksi akan ada perbaikan dengan pertumbuhan sekitar 0,9% yoy, dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 0,5% yoy.

Dengan begitu, neraca perdagangan China di akhir tahun 2023 diperkirakan bisa membaik atau meningkat ke US$ 76 miliar, dibandingkan bulan November 2023 sebesar US$ 68,39 miliar.

China adalah motor utama ekonomi Asia, mitra dagang terbesar bagi Indonesia, serta salah satu investor asing terbesar di Indonesia. Lesunya ekonomi China tentu menjadi kabar buruk bagi Indonesia.

Selain China, kabar kurang menggembirakan juga datang dari AS, di mana inflasi konsumen (consumer price index/CPI) periode Desember 2023 kembali memanas yakni naik menjadi 3,4% (yoy), dari sebelumnya sebesar 3,1% pada November 2023, Berdasarkan data dari Biro Statisik AS.

Angka ini tentunya lebih tinggi dari konsensus pasar dalam Trading Economics yang memperkirakan CPI AS pada Desember 2023 naik 3,2% (yoy)

Sementara untuk inflasi inti AS periode Desember 2023 justru cenderung turun sedikit menjadi 3,9% (yoy), dari sebelumnya pada November 2023 sebesar 4%. Angka CPI inti juga lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 3,8%.

Kenaikan CPI AS terjadi karena adanya seasonality natal dan tahun baru. Selain itu, memanasnya konflik di Timur Tengah yang turut menaikkan harga minyak mentah dunia juga berkontribusi menaikkan inflasi Negeri Paman Sam pada akhir 2023.

Memanasnya inflasi AS membuat ekspektasi pasar akan turunnya suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) berpotensi memudar. Namun, ekspektasi tersebut justru mengalami kenaikan.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch menunjukkan peluang The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp) naik menjadi 71,8%, lebih besar dari peluang pada Rabu lalu yang mencapai 66,1%, tetapi masih lebih rendah dari peluang sebesar 79% pada pekan lalu.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


IHSG Bangkit Lagi, 5 Saham Big Cap Ini Jadi Penggeraknya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts