Dari Ruangan Kecil, Gang of Four Bekerja ‘Menguasai’ Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia – Sekali waktu pada tahun 1968, Sudono Salim, Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, memulai kerja untuk pertama kalinya. Ruang kerjanya kecil dan sederhana. Berada di Jl. Asemka No.29 Jakarta Pusat. Hanya ada satu telepon, satu meja, dan dua kursi tanpa pendingin ruangan. Meski kecil, Salim percaya ruangannya sangat baik dari segi feng shui. Belakangan, kepercayaan Salim ini terbukti.

Sebelum pertemuan itu, keempatnya tidak saling mengenal. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Salim, Djuhar, dan Risjad sibuk berdagang. Sementara, Sudwikatmono atau Dwi adalah karyawan perusahaan biasa. Satu orang yang mempersatukan mereka adalah Jenderal Soeharto. Bisnis pertama mereka adalah PT. Waringin Kentjana. Karena saat itu Salim dan Djuhar belum menjadi WNI, maka untuk urusan administrasi dan kepemilikan saham dipegang oleh Dwi dan Risjad. Dari sinilah awal mula terbentuknya ‘Gang of Four’–istilah media Indonesia untuk merujuk pada pengusaha besar masa Orde Baru.

Tidak seperti ‘9 naga’ di era sekarang yang bekerja secara individual mengurus bisnis masing-masing, ‘Gang of Four’ adalah sebuah tim. Keempatnya punya peran tersendiri.

“Salim adalah pemimpin dan perekat kelompok. Dwi adalah penghubung dengan para elite karena dia ‘wakil’ Soeharto. Risjad adalah pedagang yang cakap. Djuhar adalah manajer dan fasilitator yang aktif,” tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia (2014: 100) Alasan penyebutan Dwi sebagai ‘wakil’ Soeharto tidak terlepas dari fakta kalau dia adalah sepupu Presiden RI Ke-2 itu. 

Selain di Waringin, bisnis mereka selanjutnya adalah di tepung gandum dengan nama PT. Bogasari pada Mei 1969. Pendirian usaha ini adalah reaksi dari terbukanya keran impor gandum dari AS. Mengutip Richard Robison dalam Indonesia: The Rise of Capital (2009), modal awalnya hanya 100 juta. Namun, setelah Soeharto lewat Bulog merestui, Bogasari menerima kredit Rp 2,8 milyar. 

Di Bogasari, keempatnya mendapat jatah saham dan menjabat sebagai direktur. Karena Bogasari adalah pemain pertama di sektor tepung, tak heran kalau bisnisnya moncer. Salim dan rekan-rekannya itu makin tajir. Belakangan, tepung terigu jadi bahan makanan penting selain nasi. Dari tepung, tercipta gorengan atau mi instan. Khusus yang terakhir, Salim sukses menguasai pasar ini lewat Indomie. 

Kemudian, keempatnya terlibat dalam pendirian Indocement, Indomilk, Indofood, Indomobil, dan Indomaret. Begitu juga di BCA. Jelas keterlibatannya di seluruh perusahaan yang kemudian tergabung di Salim Group itu membuat mereka tajir. 

Menurut Richard Borsuk dan Nacy Chng, meski ‘Gang of Four’ sibuk dengan bisnis yang makin berkembang dan menguasai pasar, Salim tidak membatasi aktivitas bisnis pribadi rekan-rekannya itu.

Om Liem punya bisnis sendiri yang cukup besar. Meski kecil, Pak Djuhar juga punya. Pak Dwi juga punya bisnis pribadi. Begitu juga saya. Semua [telah] menjadi sukses; kelompok tetap harmonis [dan] bisnis swasta berjalan dengan baik… itu karena ada kemauan. Tentu saja, kehidupan keluarga adalah hal lain. Tapi untuk urusan bisnis, sebagai kekuatan kolektif, kita bersatu,” kata Risjad dikutip dari Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia (2014)

Bisnis mereka pribadi pun tidak kalah moncer. Risjad punya usaha di sektor properti, agribisnis dan perbankan dengan pendirian Bank RSI (Risjad Salim International). Lalu, salah satu bisnis Dwi yang terkenal adalah Cinema 21. Sementara Djuhar dikabarkan fokus menjadi filantropis. Di bisnis pribadi masing-masing pun, keempatnya saling membantu satu sama lain. Tidak saling menjatuhkan. 

Adanya krisis ekonomi 1997-1998 yang diiringi kejatuhan Presiden Soeharto, ‘Gang of Four’ akhirnya berakhir dengan sendirinya. Namun, kelak Sudono Salim melalui jaringan bisnis Grup Indofood -nya mampu menguasai pasar dunia.

[Gambas:Video CNBC]

(mfa/mfa)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts