Dana Publik Disedot! IPO FOLK Exit Strategy Bong Chandra Dkk?

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) berencana mengalokasikan 17,65% dana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) untuk membeli saham media USS Networks PT Untung Selalu Sukses (USS). Ini tentunya berpotensi bisa menjadi exit strategy buat sang pengendali, Bong Chandra dan Danny Sutradewa.

Read More

Hal ini karena seperti disebutkan dalam prospektus IPO, FOLK nantinya akan membeli 908 lembar saham USS dengan nilai transaksi Rp 9,22 miliar dari PT Samudera Garam Ventura (SGV).

Tidak disebutkan memang kapan dan di harga berapa SGV mendapatkan saham USS, akan tetapi melalui website FOLK yakni finfolk.co disebutkan SGV masuk ke USS Networks pada pertengahan tahun lalu. Ini artinya hanya dalam setahun SGV sukses menjual kembali saham USS kepada FOLK dengan harga yang lebih tinggi dari harga pembelian menggunakan dana dari masyarakat alias proceed IPO. 

Saat ini, FOLK baru menguasai 663 lembar saham atau hanya 2,55% saham USS. Nantinya, apabila terealisasi, FOLK akan memiliki 1.571 lembar saham atau setara dengan 6,04% saham USS.

Apabila FOLK sukses membeli saham USS dengan dana publik, maka valuasi perusahaan tersebut akan mencapai Rp 264 miliar atau 50% lebih tinggi dari tahun lalu kala GoTo Gojek Tokopedia menyerap saham 4,05% saham perusahaan di harga Rp 7,14 miliar yang berarti valuasi setahun lalu berada di angka Rp 176 miliar.

FOLK memulai investasi di USS pada tengah tahun 2022. GOTO juga masuk ke USS pada pertengahan 2022 lewat anak usaha Semangat Empat Lima (SEL).

SGV sendiri merupakan pemegang 1,28% saham FOLK pre-IPO atau 1,09% pasca-IPO. Adapun, SGV dimiliki oleh Bong Chandra dan rekan.

Dalam website SALT Ventures, Bong Chandra, Danny Sutradewa, Andika Sutoro Putra, dan Vincentius Prasetio menjabat sebagai Founding Partner SALT Ventures.

Adapun, Bong Chandra dan Danny Sutradewa merupakan pengendali tidak langsung dan pemilik manfaat FOLK.

Ini karena, Bong Chandra memiliki 30,00% saham di Garam Ventura Indonesia (GVI) sekaligus menjabat sebagai komisaris di perusahan tersebut. Sedangkan, Danny Sutradewa miliki 35,00% saham perusahaan.

GVI, bersama dengan PT Sumber Garam Pratama (SGP), merupakan pemegang saham mayoritas dan pengendali FOLK. Pasca-IPO (belum termasuk realisasi waran), GVI akan menguasai 19,71% saham dan SGP 46,30% saham FOLK.

GVI sendiri menguasai 27,59% saham SGP.

Selain sebagai Komisaris Utama FOLK, Bong Chandra dikenal sebagai pendiri dan Direktur PT Perintis Triniti Properti Tbk sejak 2009 silam. Sedangkan, Danny Sutradewa turut mendirikan SALT Ventures pada 2019 dan terlibat dalam sejumlah peran, mulai dari merger dan akuisisi (M&A) hingga leverage buoyout (LBO).

Menurut penjelasan manajemen dalam prospektus, alasan dan pertimbangan transaksi pembelian saham USS, di antaranya terkait potensi pertumbuhan bisnis, yakni industri sneaker dan lifestyle terus berkembang pesat, dan USS memiliki posisi yang unik di pasar sebagai komunitas sneaker terkemuka di Indonesia.

Selain itu, alasan lainnya soal sinergi bisnis ekosistem perseroan, kemampuan pengembangan merek USS, pengalaman manajemen USS, dan potensi keuntungan apabila USS dapat terus bertumbuh.

USS bergerak di bidang pengembangan media sosial, pemasaran digital untuk merek sepatu dan produk lifestyle, dan produksi konten kreatif; dan offline campaign.

USS Networks merupakan media yang berisikan konten gaya hidup kontemporer dan anak mudah. Didirikan oleh tokoh subkultur Jeffry Jouw (Jejouw) dan Sayed Muhammad, jaringan konten ini telah mengembangkan serangkaian merek gaya hidup. Ini termasuk Urban Sneaker Society, USS Feeds, USS Her, Local Fest, Sonder Lab, dan Outbrake.

Penggunaan Dana IPO Lainnya

Informasi saja, selain menambah saham di USS, FOLK juga berencana mengalokasikan dana IPO untuk melakukan penyetoran modal hingga pinjaman pemegang saham.

Rincian penggunaan dana IPO FOLK lainnya sebagai berikut:

– Sekitar 22,69% akan digunakan untuk penyetoran modal kepada PT Finfolk Media Nusantara (FMN).

– Sekitar 18,85% akan digunakan Perseroan untuk pembayaran jasa kontraktor dengan rincian sebagai berikut: renovasi terhadap Gedung kantor, pembuatan studio, ruang pertemuan dan juga pembelian peralatan perlengkapan di dalamnya.

– Sekitar 12,50% akan dipinjamkan kepada PT Drsoap Global Indonesia (DGI). Pinjaman ini akan berupa pinjaman pemegang saham (shareholder’s loan).

– Sekitar 12,00% akan dipinjamkan kepada PT Amazara Indonesia Mudakarya (AIM). Pinjaman ini akan berupa pinjaman pemegang saham (shareholder’s loan).

– Sekitar 6,60% akan dipinjamkan kepada PT Syca Kreasi Indonesia (SKI). Pinjaman ini akan berupa pinjaman pemegang saham (“shareholder’s loan”).

– Sekitar 4,95% akan digunakan Perseroan untuk pembelian software dengan rincian sebagai berikut jasa Enterprise Resource Planning (ERP) dan jasa Customer Relationship Management (CRM) dimana akan mengintegrasikan seluruh sumber daya Perseroan dan Entitas Anak. Selain itu akan digunakan Perseroan untuk mengembangkan aplikasi (Folk Superapps).

– Sekitar 4,76% (empat koma tujuh enam persen) akan digunakan Perseroan untuk modal kerja Perseroan yaitu untuk pembayaran jasa Outsourcing dengan rincian sebagai berikut marketing & sales agent, customer service, administration support, jasa kebersihan dan keamanan.

Soal IPO FOLK

Perusahaan akan melepas sebanyak 570.000.000 saham biasa atas nama yang merupakan saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham yang mewakili sebesar 14,44% dari modal yang telah ditempatkan.

Adapun harga yang ditawarkan kepada masyarakat dalam masa book building sekitar Rp 100 hingga Rp 105 per saham. Sehingga perseroan berpeluang akan mendapatkan dana segar maksimal senilai Rp59,85 miliar.

Kapitalisasi pasar (market cap) FOLK berpotensi berkisar Rp394,8 miliar hingga Rp414,5 miliar.

Sebagai pemanis, akan ada gratis waran bagi investor dengan rasio 2:1. Artinya, setiap pembelian dua saham perdana FOLK akan mendapatkan gratis satu waran.

Pada 2022, laporan keuangan FOLK mencatat adanya peningkatan signifikan dalam laba tahun berjalan menjadi Rp5,2 miliar dari sebelumnya hanya Rp180 juta pada 2021. Kenaikan ini disebabkan oleh pertumbuhan pendapatan di 2022 menjadi Rp40,2 miliar, yang sebelumnya hanya Rp23,8 miliar pada 2021.

Namun, pada tanggal 31 Maret 2023, terjadi kerugian berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,7 miliar. Padahal pada triwulan I-2022, FOLK masih membukukan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk Rp1,2 miliar.

Selain itu, rugi tahun berjalan mencapai Rp378,4 juta selama 3 bulan pertama 2023. Penurunan pendapatan menjadi Rp7,5 miliar pada periode ini menjadi salah satu penyebab dari kerugian ini, jika dibandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp8,9 miliar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research, divisi penelitian CNBC Indonesia. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau aset sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Melantai Perdana, Saham MPLX Terbang 34%, Punya Siapa?


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts