CPO Ambles Hampir 2%, Padahal RI Dapat Order Hingga Rp40 T!

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) bergerak terpuruk di sepanjang pekan ini, meski ekspor CPO Malaysia dan Indonesia diprediksi akan meningkat pada periode awal November 2022.

Read More

Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange sempat terkoreksi selama tiga hari beruntun di perdagangan pekan ini, sebelum akhirnya berakhir naik pada Jumat (11/11).

Kendati begitu, dalam sepekan, harga CPO masih drop 1,83%. Dalam sebulan, harga CPO berhasil melesat 5,75%, tapi anjlok 8,73% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pada Jumat (11/11), harga CPO ditutup melesat 2,68% menjadi MYR 4.287/ton (US$ 927,57/ton) didukung oleh lonjakan ekspor pada awal November dari Malaysia dan Indonesia. Selain itu, rencana Indonesia untuk menaikkan harga referensi pajak ekspor, turut memberikan katalis positif.

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Farid Amir menyatakan rencananya untuk menetapkan harga referensi minyak sawit mentah lebih tinggi pada US$ 826,58/ton untuk pengiriman 16-30 November 2022.

Namun, analis memprediksikan rencana produsen CPO terbesar dunia yakni Indonesia akan mengurangi diskon pada CPO Indonesia. Di sisi lainnya, kebijakan tersebut juga akan meningkatkan harga CPO Malaysia.

“Pajak dan retribusi Indonesia yang lebih tinggi akan mengurangi diskon harga Indonesia. Ini akan membantu harga CPO Malaysia naik,” kata Pendiri Palm Oil Analytics yang berbasis di Singapura Sathia Varqa dikutip Reuters.

“Palm juga telah membuat pemulihan yang menakjubkan dan menutup beberapa kerugian dari tiga hari terakhir, dibantu oleh pasar ekuitas yang bullish, “tambah Varqa.

Surveyor Kargo memprediksikan bahwa ekspor CPO Malaysia periode 1-15 November 2022, melesat di kisaran 12,7%-33% jika dibandingkan dengan periode yang sama bulan lalu karena pengiriman ke India dan China meningkat.

Sementara itu, dari Tanah Air, jika melansir Reuters, sembilan perusahaan asal Indonesia pada Jumat (11/11) menandatangani kontrak untuk menjual 2,5 juta ton produk minyak sawit senilai US$ 2,6 miliar setara Rp 40,3 triliun (asumsi kurs Rp 15.439/US$) kepada 13 pembeli asal China.

Kesepakatan itu merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke China pada Juli 2022 lalu. Pada saat itu, pemerintah China sepakat akan mengimpor tambahan 1 juta ton CPO Indonesia. Namun, belum jelas berapa lama kesepakatan itu akan dieksekusi.

Menteri Perdagangan Indonesia Zulkifli Hasan mengatakan ekspor ke China tidak akan mengganggu pasokan minyak goreng domestik karena pemerintah telah mengamanatkan eksportir untuk memasok pasar domestik untuk mendapatkan izin ekspor.

“Kewajiban pasar dalam negeri dan kewajiban harga domestik bagi produsen minyak goreng dan industri minyak sawit mentah tetap dilakukan untuk memastikan stabilnya pasokan bahan baku minyak goreng,” kata Zulkifli dalam keterangannya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Jangan Kaget, Harga CPO Ambles Gegara Ini

(aaf/aaf)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts