gep-indonesia.org

Bursa Asia Berjatuhan, Cuma Straits Times yang Selamat

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (10/11/2022), jelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Oktober 2022 dan masih belum pastinya hasil pemilihan sela Kongres AS.

Hanya indeks Straits Times Singapura yang ditutup di zona hijau pada hari ini, yakni menguat 0,24% ke posisi 3.173,18.

Sedangkan sisanya ditutup di zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong memimpin koreksi yakni ambles 1,7% ke posisi 16.081,04.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang ditutup merosot 0,98% ke posisi 27.446,1, Shanghai Composite China melemah 0,39% ke 3.036,13, ASX 200 Australia terkoreksi 0,5% ke 6.964, KOSPI Korea Selatan tergelincir 0,91% ke 2.402,23, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir ambles 1,46% menjadi 6.966,84.

Indeks Hang Seng ditutup ambruk nyaris 2%, diperberat oleh saham-saham teknologi China karena karena investor terus mencerna hasil pemilihan paruh waktu Kongres AS yang akan datang dan bersiap untuk pengawasan lebih lanjut pada perusahaan teknologi China.

Saham Alibaba ambles 4,55%, sedangkan saham JD.com ambruk 6,66%, saham Tencent Holdings tergelincir 2,28%, dan saham Meituan merosot 1,66%.

Pelaku pasar di Asia-Pasifik ditutup berjatuhan di tengah ketidakpastian akan hasil pemilihan paruh waktu atau sela Kongres AS.

Para investor mengharapkan Partai Republik untuk mendapatkan kekuatan di DPR AS dan memblokir pajak dan rencana pengeluaran di masa depan.

Tapi sampai saat ini, pemilihan berjalan ketat dan hasilnya masih belum jelas. Partai Republik diperkirakan akan menguasai mayoritas kursi DPR. Hal ini tentunya bisa menghambat kebijakan-kebijakan yang akan diambil Presiden Joe Biden yang berasal dari Partai Demokrat.

Hingga saat ini, Partai Republik sudah memperoleh 207 dari 435 kursi DPR. Sementara Partai Demokrat 184 kursi. Diperlukan 218 kursi untuk menjadi mayoritas di DPR Amerika Serikat.

Jika Partai Republik berhasil menguasai DPR, maka pelaku pasar akan menghadapi gridlock, dan risiko lolosnya rancangan undang-undang yang dibuat Pemerintah Biden bisa banyak yang mental.

“Hasil pemilu masih belum pasti, tetapi gelombang merah yang diantisipasi oleh investor dan pasar jika taruhan tidak terwujud dalam jangka pendek, yang akan menambah volatilitas yang saat ini sudah meningkat,” tulis Dennis DeBusschere dalam sebuah laporan.

Yang paling dekat adalah pembahasan rancangan APBN di AS. Masalah klasik di AS ketiga DPR dikuasi partai oposisi. Pembahasan rancangan APBN kerap kali buntu yang membuat pemerintahan AS sering mengalami shutdown atau penutupan sementara.

Selain itu, pelaku pasar cenderung wait and see jelang rilis data inflasi berdasarkan konsumen (indeks harga konsumen/IHK) AS yang akan dirilis malam hari ini waktu Asia.

Ekonom dalam polling Dow Jones memprediksi IHK Negeri Paman Sam akan tumbuh 7,9% (year-on-year/yoy) pada Oktober, turun sedikit dari kenaikan September lalu sebesar 8,2%.

Pasar akan memantau secara ketat data IHK AS, karena dapat menentukan arah kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menaikkan suku bunga kedepannya.

“Tetapi untuk pasar, fokusnya akan beralih ke apakah resesi membayangi, apakah Fed akan mengakhiri pengetatannya musim dingin ini, dan apakah gencatan senjata dan negosiasi dimungkinkan dalam perang Ukraina,” tulis Greg Valliere, kepala strategi kebijakan AS di AGF Investments.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Kode Keras Buat IHSG, Bursa Asia Melesat!

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Exit mobile version