Bursa Asia Berakhir Menghijau, IHSG Malah Loyo Sedikit

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona hijau pada perdagangan Rabu (18/1/2023), setelah bank sentral Jepang memutuskan untuk tidak merubah kebijakan suku bunga ultra longgarnya dan merubah kebijakan kontrol imbal hasil.

Read More

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melejit 2,5% ke posisi 26.791,1, Hang Seng Hong Kong menguat 0,47% ke 21.678, Shanghai Composite China naik tipis 0,01% ke 3.224,41, Straits Times Singapura bertambah 0,28% ke 3.289,55, dan ASX 200 Australia terapresiasi 0,1% menjadi 7.393,4.

Sedangkan untuk indeks KOSPI Korea Selatan ditutup melemah 0,47% ke 2.368,32 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir turun tipis 0,02% menjadi 6.765,79.

Dari Jepang, bank sentral (Bank of Japan/BoJ) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level -0,1% pada hari ini.

Selain itu, BoJ juga mempertahankan kebijakan kontrol imbal hasil atau yield curve control (YCC) sebesar 0,5% untuk obligasi pemerintah (Japan Government Bond/JGB) tenor 10 tahun.

YCC merupakan kebijakan BoJ yang menahan yield JGB tenor 10 tahun dekat dengan 0,5%. Ketika yield mulai menjauhi 0,5%, maka BoJ akan melakukan pembelian obligasi.

Pembelian tersebut artinya BoJ menyuntikkan likuiditas ke perekonomian. Kebijakan tersebut pada Desember 2022 lalu dilebarkan dari sebelumnya 0,25%, yang cukup mengejutkan pelaku pasar dan menjadi ‘plot twist’. Tetapi hal serupa tidak terjadi lagi pada hari ini.

Pada 2022 lalu, kurs yen ambrol melawan dolar Amerika Serikat (AS). Pada 21 Oktober 2022, yen menyentuh JPY 151/US$, merosot lebih dari 32% dari penutupan perdagangan 2021, dan menyentuh level terendah dalam 24 tahun terakhir.

Akibat kemerosotan tersebut pemerintah Jepang yang sudah gelisah akhirnya mengambil tindakan tegas. Intervensi pun dilakukan pertama kalinya sejak 1998.

“Kami telah mengambil tindakan tegas” kata Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk urusan international, Masato Kanda kepada wartawan ketika ditanya mengenai intervensi, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (22/9/2022).

Intervensi tersebut dilakukan dengan menjual dolar AS. Sejak saat itu, nilai tukar yen terus memangkas pelemahannya. Hingga akhirnya pada pertengahan Desember 2022, BoJ melebarkan YCC yang langsung direspon penguatan tajam yen. Pelemahan pun dipangkas menjadi 14% sepanjang 2022.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas menguat terjadi di tengah beragamnya pergerakan bursa saham acuan global yakni bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup ambles 1,14% dan S&P 500 melemah 0,2%. Namun untuk indeks Nasdaq Composite terpantau naik 0,14%.

Melemahnya mayoritas bursa saham AS dipicu setelah Goldman Sachs melaporkan laba yang turun 6,44%, setelah bank tersebut melaporkan kehilangan pendapatan terburuk dalam satu dekade untuk kuartal keempat 2022.

Hasilnya ditekan oleh penurunan pendapatan perbankan investasi dan manajemen aset. Sementara itu, saingannya Morgan Stanley membukukan angka yang lebih baik dari perkiraan, sebagian berkat rekor pendapatan manajemen kekayaan. Sahamnya melonjak 5,91%.

Hasil tersebut muncul setelah bank besar lainnya seperti JPMorgan dan Citigroup melaporkan hasil kuartalan yang beragam.

Wall Street telah mencatatkan minggu-minggu positif berturut-turut saat memulai tahun baru, tetapi investor masih menimbang berbagai data penting.

“Reli tahun ini dipimpin oleh kualitas rendah dan stok yang sangat pendek. Namun, itu juga menyaksikan pergerakan kuat dalam saham siklis relatif terhadap saham defensif. Langkah ini khususnya meyakinkan investor bahwa mereka kehilangan sesuatu dan harus memposisikan ulang, “kata Wilson kepala strategi ekuitas AS di Morgan Stanley.

Penguatan terjadi setelah mendapai angin segar dari data terkait inflasi. Indeks harga konsumen untuk Desember menunjukkan harga mendingin 0,1% dari bulan sebelumnya, namun harga masih 6,5% lebih tinggi dari bulan yang sama tahun lalu.

Melandainya inflasi ini tentu saja menjadi kabar positif bagi pelaku pasar saham. Dengan inflasi yang terus melandai, bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) diharapkan makin melonggarkan kebijakan moneter mereka.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group pasar melihat The Fed akan menaikkan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada Februari dan Maret dengan probabilitas sebesar 94% dan 76%. Dengan proyeksi tersebut, puncak suku bunga The Fed berada di 4,75% – 5%.

Kendati demikian, para pelaku pasar masih menunggu laporan data ekonomi utama yang akan menunjukkan bagaimana keadaan ekonomi AS di tengah kenaikan suku bunga The Fed untuk menjinakkan inflasi.

Fokus investor saat ini mengawal dan menanti rilis laporan keuangan perusahaan saat musim pendapatan dimulai. Emiten perbankan tentu saja menjadi pusat perhatian karena untuk membaca kemungkinan resesi masih ada atau sudah menghilang.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Sinyal Nggak Enak Buat IHSG Nih… Bursa Asia Loyo Lagi

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts