gep-indonesia.org

Bunga Acuan Naik, Emiten Ini Berpotensi Paling ‘Cuan’

Jakarta, CNBC Indonesia – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikan suku bunga acuan untuk keempat kalinya secara berturut turut hingga berada pada level 5,25%, dinilai perlu.

Suku bunga Deposit Facility sendiri bergerak menjadi 4,50%, serta suku bunga Lending Facility pada level 6,00%. Langkah ini sejalan dengan tekanan inflasi global masih tinggi akibat gangguan rantai pasok yang masih terjadi, sehingga menyebabkan lonjakan harga makanan dan energi.

“Tekanan inflasi tersebut membuat beberapa Bank Sentral mengetatkan kebijakan moneter, salah satunya menaikan suku bunga,” ujar Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebijakan kenaikan suku bunga oleh BI dirasa perlu walaupun jika melihat tingkat inflasi IHK di Indonesia telah mengalami perlambatan di bulan Oktober sebesar 5,71%, lebih rendah dari September 5,95%, namun masih di atas target inflasi BI yaitu 2%-4%.

Alasan lainnya adalah untuk menahan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cukup dalam dikarenakan The Fed terus melakukan langkah agresif dan masih akan menaikan suku bunga pada beberapa periode kedepan, untuk saat ini Fed Funds Rate (FFR) berada pada kisaran 3,75%-4%.

Meski inflasi Amerika Serikat pada Oktober lalu sudah mereda di level 7,7% lebih rendah dari perkiraan konsensus ataupun periode sebelumnya di level 8,2%, namun angka ini masih jauh dari target inflasi sebesar 2%. Oleh karena itu, The Fed diproyeksikan masih menaikan suku bunga pada FOMC di bulan Desember mendatang.

Bagi perbankan kenaikan suku bunga BI7DRR dapat menjadi momentum positif. Ditambah pertumbuhan penyaluran kredit secara keseluruhan masih tumbuh 11,95% YoY pada Oktober 2022, lebih tinggi dibandingkan bulan September sebesar 11% YoY, walaupun kenaikan suku bunga dilakukan berturut-turut.

“BBCA bisa dikatakan perbankan yang menarik di tengah kenaikan suku bunga. Jika dilihat pada kinerja keuangan per 9 September 2022 BBCA memiliki jumlah Current Account Saving Account (CASA) 81% dari toal Third Party Funds (DPK),” jelasnya.

Perolehan tersebut membuat BBCA dapat meminimalisir Cost of Fund (CoF). Bersamaan dengan hal itu Net Interest Margin (NIM) di tengah kenaikan suku bunga bisa terakselerasi, serta Loan To Deposit Ratio (LDR) yang saat ini berada di level 63% juga berpotensi mengalami peningkatan.

Lain hal nya dengan sektor properti, kenaikan suku bunga berpotensi menurunkan permintaan kredit properti, hal ini sejalan kenaikan suku bunga yang akan mengerek tingkat bunga KPR. Dilema yang sama terjadi di Amerika Serikat suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menurut data Mortgage Bankers Association (MBA) pada bulan November sempat menyentuh 7,14%, level tertinggi sejak 2001, sejalan dengan kenaikan suku bunga The Fed.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ramalan BI: Inflasi Bakal Melejit Sampai 4,6%

(ayh/ayh)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Exit mobile version