gep-indonesia.org

Adu ‘Banteng’ dan ‘Beruang’ Imbang, IHSG Cenderung Sideways

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar saham Indonesia sepanjang pekan ini berada di dalam tren mendatar atau sideways.

Pada sesi perdagangan terakhir minggu ini, Jumat (18/11/20220) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,53% di 7.082,18. Sepanjang pekan kinerja IHSG melemah tipis 0,1%.




ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjalanan IHSG diawali dengan pelemahan pada perdagangan Senin (14/11/2022). Indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut ditutup merosot 0,86% ke posisi 7.028,066.

Pelemahan IHSG terjadi di tenggah menghijaunya bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Jumat pekan lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 0,1%, sedangkan Nasdaq melonjak 1,9%, dan S&P 500 melesat 0,93%

Pasar keuangan AS, baik saham dan obligasi, menutup pekan lalu yang bergejolak dengan kenaikan terbesar dalam beberapa bulan, didorong oleh harapan bahwa inflasi di AS telah mendingin.

Namun, sinyal positif ini nyatanya belum mampu mendorong IHSG untuk konsisten berada di zona hijau.

Meskipun inflasi di AS telah melandai, akan tetapi masih jauh di atas target perlambatan yang diinginkan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Keesokan harinya IHSG berakhir menguat tipis 0,23% dan ditutup di 7.035,5 pada perdagangan Selasa (15/11/2022).

Surplus neraca dagang yang mencapai US$ 5,67 miliar mampu mendorong IHSG menguat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia naik 12,3% year-on-year (yoy) dan impor naik 17,44% yoy pada Oktober 2022.

Kemudian, IHSG harus berakhir dengan koreksi 0,3% di 7.014,38 pada perdagangan Rabu (16/11/2022).

Pelemahan yang dialami oleh IHSG sejalan dengan mayoritas gerak indeks saham Asia yang juga terkoreksi. Hanya indeks Hang Seng saja yang menguat 0,14% saat itu.

Sementara pada perdagangan jelang akhir pekan pada Kamis dan Jumat, IHSG sukses rebound dan berakhir di zona hijau. Masing-masing menguat 0,44% dan 0,53% dipengaruhi sentimen dalam negeri.

Bank Indonesia (BI) yang telah melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) sejak Rabu (16/11) akhirnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) sesuai dengan konsensus.

Sementara itu rilis data transaksi berjalan Indonesia yang mencatatkan surplus. Transaksi berjalan pada triwulan III 2022 terus menunjukkan kinerja yang solid ditandai dengan peningkatan surplus sehingga dapat menahan tekanan terhadap NPI akibat tekanan pada transaksi modal dan finansial sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Dengan perkembangan tersebut, NPI pada triwulan III 2022 mencatat defisit 1,3 miliar dolar AS, dan posisi cadangan devisa pada akhir September 2022 tercatat sebesar 130,8 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 5,7 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional.

TIM RISET CNBC INDONESIA


Artikel Selanjutnya


Bergerak di Dalam Pola Channel Down, IHSG Bakal Terjun Bebas?

(ras/luc)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Exit mobile version